Zona Mahasiswa - Kampus itu ibarat miniatur dunia nyata. Selain menjadi tempat mencari ilmu, kampus juga merupakan tempat bertemunya ratusan kepala dengan latar belakang, karakter, dan agenda yang berbeda-beda.
Di balik keseruan nongkrong, rapat panitia, dan kebebasan ala mahasiswa, ada sisi gelap yang jarang dibahas: lingkungan yang toxic (beracun). Mulai dari drama pertemanan, kompetisi nilai yang tidak sehat, senioritas, hingga hustle culture yang memaksa kamu harus sibuk 24 jam sehari.
Kalau kamu tidak punya pendirian yang kuat, kamu bisa dengan mudah terseret arus dan berujung stres berat. Agar masa kuliahmu tidak terasa seperti neraka, berikut adalah tips ampuh untuk bertahan dan tidak termakan toxic-nya kehidupan kampus.
1. Berhenti Menjadi People Pleaser (Si Paling Gak Enakan)
Penyakit utama mahasiswa baru biasanya adalah rasa "nggak enakan". Diajak nongkrong padahal besok ada kuis, ikut. Disuruh ngerjain tugas kelompok sendirian karena teman alasan sakit, diiyakan.
Lingkungan toxic sangat menyukai orang yang tidak bisa berkata "tidak". Mereka akan terus menekan dan memanfaatkan kebaikanmu.
- Strategi: Belajarlah membuat batasan yang tegas (boundaries). Kamu berhak menolak ajakan yang merugikanmu tanpa perlu merasa bersalah atau memberikan alasan panjang lebar. Cukup katakan, "Sori, gue nggak bisa ikut kali ini, ada tanggungan." Teman yang baik akan mengerti, teman yang toxic akan marah. Dari situ kamu bisa memfilter siapa teman aslimu.
2. Keluar dari Jebakan FOMO (Fear of Missing Out)
Melihat Stories teman-teman sedang nongkrong di kafe hits atau pamer lanyard kepanitiaan bergengsi sering kali membuatmu merasa tertinggal (FOMO). Perasaan ini memicu kamu untuk ikut-ikutan melakukan hal yang sama, padahal mungkin kondisi keuangan atau fisikmu sedang tidak mendukung.
- Strategi: Pahami bahwa media sosial itu cuma panggung sandiwara. Orang hanya mengunggah bagian terbaik dari hidupnya, bukan saat mereka menangis karena kehabisan uang atau dimarahi dosen. Fokus saja pada timeline atau lintasan hidupmu sendiri. Tidak ikut nongkrong satu atau dua kali tidak akan membuatmu kehilangan masa depan.
3. Waspadai Hustle Culture Berkedok Produktivitas
Di kampus, sering ada stigma bahwa mahasiswa yang keren adalah mereka yang ikut tiga organisasi, dua kepanitiaan, magang sana-sini, plus asisten dosen. Sibuk itu dianggap keren, sedangkan istirahat dianggap malas.
Ini adalah toxic productivity. Kelelahan fisik dan mental (burnout) yang berkepanjangan justru akan menghancurkan nilai akademikmu.
- Strategi: Ingat kembali tujuan utamamu kuliah. Pilihlah kegiatan di luar kelas dengan sangat selektif. Kalau satu organisasi saja sudah menyita waktu belajar dan waktu tidurmu, jangan tamak dengan mendaftar organisasi lain. Menjaga kesehatan mental dan fisik jauh lebih penting daripada pamer kesibukan.
4. Seleksi Circle Pertemanan dengan Kejam
Kamu adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering menghabiskan waktu bersamamu. Kalau circle pertemananmu isinya hanya orang-orang yang suka bergosip, merendahkan orang lain, hobi titip absen, dan mengeluh setiap saat, energi negatif itu akan menular kepadamu.
- Strategi: Jangan takut untuk menjauh dari circle yang membuatmu merasa tidak nyaman atau selalu merasa kurang. Lebih baik punya dua atau tiga sahabat yang saling mendukung secara akademik dan mental, daripada punya puluhan teman tongkrongan tapi sering menusuk dari belakang.
5. Jangan Terlibat dalam Drama "Kubu-Kubuan"
Biasanya ini terjadi di organisasi atau menjelang pemilihan ketua BEM. Tiba-tiba kelas terbelah menjadi beberapa kubu yang saling serang dan menjatuhkan.
- Strategi: Bersikaplah netral dan profesional. Kalau kamu ada di dalam sebuah organisasi, bekerjalah sesuai jobdesk. Tidak perlu ikut campur dalam drama politik kampus yang tidak memberikan nilai tambah pada CV atau ijazahmu kelak. Jaga jarak dari obrolan-obrolan provokatif.
Kesimpulan
Kehidupan kampus tidak selalu seindah di film-film. Bertemu dengan orang atau lingkungan toxic adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Namun, kamu punya kendali penuh atas bagaimana kamu meresponsnya.
Kenali batasan dirimu, seleksi pertemananmu, dan ingatlah selalu bahwa tujuan akhirnya adalah lulus dengan kepala tegak, IPK yang layak, dan mental yang sehat. Jangan biarkan drama kampus menghalangi jalanmu menuju sarjana.
Baca juga: Viral! Kasus Pelecehan Seksual Dosen Unpad, Korban Mahasiswa Asing: Diminta Foto Pakai Bikini
Komentar
0

