Berita

Tragis! Kisah Mahasiswa ITB yang Meninggal Dunia Gegara Begadang 7 Hari 7 Malam Demi Selesaikan Skripsi

Muhammad Fatich Nur Fadli 20 April 2026 | 15:04:15

Zona MahasiswaSobat Zona, sebagai mahasiswa tingkat akhir, kita semua tahu betapa melelahkannya fase menuju kelulusan. Mulai dari begadang mencari referensi, tegangnya melewati ujian kompre (Kompre), hingga puncaknya berhadapan dengan dosen penguji di Sidang Skripsi. Ambisi untuk cepat lulus dan memakai toga kebanggaan sering kali membuat kita buta akan batas kemampuan diri.

Namun, kejadian memilukan yang menimpa seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Jehuda Christ Wahyu, harus menjadi tamparan paling keras bagi kita semua. Ambisinya menaklukkan skripsi berujung pada hilangnya nyawa. Mari kita renungkan kisah perjuangan Jehuda yang ia bagikan sendiri sebelum berpulang.

Baca juga: Viral! 16 Orang Mahasiswa Hukum UI Melecehkan Mahasiswi dan Dosen Perempuan di Grup Chat

Mimpi Buruk Dimulai: 7 Hari Tanpa Tidur Malam

Kisah pilu ini dibagikan sendiri oleh Jehuda melalui akun X (dulu Twitter) pribadinya, @Jechriswa, dalam sebuah utas berjudul "Anemia Chronic Disease, skripsi, dan wisuda ITB".

Jehuda memforsir tubuhnya melampaui batas kewajaran manusia. Demi menyelesaikan tugas akhir, ia menerapkan pola hidup yang sangat ekstrem dan merusak.

"Ceritanya dimulai dari gue ngerjain skripsi sampai mau mati, tujuh hari berturut-turut malem ga tidur, siangnya tidur," tulis Jehuda.

Perjuangan "berdarah-darah" itu memang membuahkan hasil. Pada 13 September 2019, ia dinyatakan lulus dari ITB. Sayangnya, euforia kelulusan itu harus dibayar dengan harga yang tidak masuk akal.

Tubuh Menjerit: Komplikasi hingga Gagal Wisuda

Setelah skripsinya selesai, tubuh Jehuda akhirnya collapse. Ia dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani serangkaian pemeriksaan yang panjang dan membingungkan:

  1. Dugaan Pertama: Tipes (hasil lab ternyata negatif).
  2. Dugaan Kedua: Masalah pada ginjal (karena darahnya rendah semua dan ada infeksi kronis).
  3. Dugaan Ketiga & Keempat: Radang paru-paru (TBC) atau Demam Berdarah (karena trombosit bermasalah). Hasil rontgen menunjukkan paru-parunya bersih.

Hingga akhirnya, Jehuda didiagnosis mengidap Anemia Chronic Disease (yang kemudian ia sebut sebagai Thalassemia). Sel darah merahnya berubah bentuk menjadi kurus dan pucat akibat kelelahan ekstrem. Ditambah lagi, riwayatnya sebagai perokok aktif memperburuk kondisi kesehatannya.

Kondisi fisik yang terus merosot membuatnya harus dirawat intensif. Tragisnya, meski ia sudah mengambil toga dan sempat mengikuti acara Wisuda Night, Jehuda batal mengikuti prosesi wisuda resminya.

Pesan Terakhir: Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Kurang lebih dua puluh hari setelah menulis utas tersebut, pada 24 November 2019, dunia kampus berduka. Teman Jehuda mengonfirmasi bahwa almarhum telah menghembuskan napas terakhirnya.

Sebelum berpulang, Jehuda meninggalkan sebuah pesan menyentuh yang harus kita ingat baik-baik setiap kali kita tergoda untuk mengorbankan waktu tidur demi tugas:

"Jaga kesehatan semuanya! Aku menyesal kenapa bisa sakit. Skripsi memang penting, tapi lebih penting lagi kesehatan tubuh yang patut dipikirkan."Jehuda Christ Wahyu

Baca juga: Viral! Mahasiswi Ngaku Dilecehkan Oknum Dosen, Pelaku Dinonaktifkan Tapi Digaji: Rektor UBL Angkat Bicara

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150