Pilihan Editor

Teror Menyeramkan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN SUKA

Zahrah Thaybah M 21 Oktober 2021 | 17:33:35

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Kali ini Sans akan jalan-jalan ke UIN Sunan Kalijaga atau yang biasa dikenal UIN SUKA. Tenang aja, masih tetap di Yogyakarta tercinta. Perguruan tinggi ini dulunya bernama IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kemudian, pada tahun 2004 berganti nama menjadi UIN Sunan Kalijaga. Karena ingin mengintegrasikan dan melakukan interkoneksi antara keilmuan agama dengan keilmuan umum untuk mengikuti perkembangan zaman.

Walaupun tergolong kampus yang kental dengan nuansa Islami, bukan berarti nggak punya cerita-cerita horor, teror menyeramkan, atau bahkan hal mistis yang sering terjadi.

Eh, apa jangan-jangan kalian mikir wujud hantunya begitu muslimah dan menggunakan baju syar’i? Oh tidak seperti itu Ferguso, kalian salah. Justru di kampus inilah berbagai kejadian yang mengerikan berawal. 

Nah, biar nggak makin penasaran, sebelum itu jangan lupa untuk matikan lampu dan aktifkan mode horornya, agar lebih seru! Selamat membaca.

Breeessss

Suara hujan deras yang mengguyur Yogyakarta sore ini membuat siapapun ingin sekali bergelung bersama selimut di dalam kamar sambil memejamkan mata alias tidur. Apalagi suara petir yang terus menyambar bikin malas untuk beraktivitas di luar ruangan. Itulah yang ada di benak Rahma.

Sore ini Rahma kebetulan ada mata kuliah pengganti sore hari, jam 16.15. Seharusnya sih dia sudah kembali ke kosan dan nonton drakor yang kurang empat episode saja.

“Astaga, Pak Wisnu kok nggak besok aja gitu lho ngadain kelas pengganti atau ngasih tugas aja gitu kek. Ini udah molor 15 menit gara-gara bapaknya belum nongol,” ia terus mendumal sebal sambil melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

Rahma merupakan salah satu mahasiswa semester 4 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN SUKA. Kemarin ia dan teman-teman mendapat informasi dari salah satu dosen mata kuliah, kalau hari ini memang ada kelas pengganti. Soalnya beliau pertemuan sebelumnya beliau nggak bisa hadir. Biasalah dosen sibuk. Canda, pak.

“Sek to, mbok yo sabar. Paling bapaknya kejebak hujan deres,” kata Arif si ketua kelas. Ia mencoba menenangkan Rahma dan teman-teman lainnya yang muai gaduh.

“Wis Rif, lek bapake nggak datang aku mulih yo,” kata Feri dengan nada kesal. Fyi, dia memang salah satu cowok di kelas yang suka bolos matkul.

Beberapa menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 16.45 dan udara sudah semakin dingin. Karena hujan yang tak kunjung reda.

“Ma, Rahma, aku kebelet pipis. Anterin dong ke toilet. Nggak berani sendirian,” kata Alya sambil nyengir kuda.

“Halah, nggak berubah dari dulu. Takut apa sih? Orang nggak ada hantu. Kalau ada nanti ya bagus dong kamu ditemenin pas di toilet,” kata Rahma ngaco.

“Hush, amit-amit Ya Allah. Kamu kalau ngomong ngawur. Pamali begitu,” sambil menggeplak lengan Rahma, akhirnya mereka berdua pun langsung menuju toilet.

Sepanjang melintasi koridor kelas-kelas lantai 4 yang sepi, keduanya bercanda tawa dan bercerita. Lagian nggak bakal ada yang negur, karena saat itu memang kelas mereka saja yang masuk. Mahasiswa lainnya sih di lantai 3 dan lantai lain.

“Ini Pak Marno mana sih? Kok tumben belum nyalain semua lampu, biasanya jam segini lumayan terang di lantai 4,” kata Alya sambil terus berjalan menuju toilet. Rahma jangan ditanya, ia sudah kepalang bad mood sore ini.

Ketika sudah memasuki toilet, keduanya sedikit terkejut karena ternyata ada Dinda, salah satu teman sekelas mereka.

“Lho, Din kamu udah daritadi di sini? Kenapa nggak bareng kita aja?” tanya Rahma sambil ngaca membetulkan kerudungnya.

“Udah dari dulu,” kata Dinda. Rahma pun hanya tertawa kecil mendengar jawaban Dinda.

“Duh, pingin pulang deh rasanya. Pak Wisnu lama banget datangnya. Awas aja kalau nggak jadi ada kelas,” Rahma masih terus menggerutu. Sedangkan, Dinda hanya diam sambil terus memandanginya melalui pantulan kaca.

Krieett. Bilik pintu toilet terbuka. Alya keluar sambil menghela nafas lega dan berniat menghampiri mereka berdua.

Belum sempat melangkah, tiba-tiba dari bilik toilet yang paling ujung terdengar suara kran menyala, kemudian mati. Ketiganya pun sontak menoleh ke arah toilet tersebut.

Rahma dan Alya sudah gemetar ketakutan, jantung keduanya berdegup kencang dan nggak mampu berkata-kata.

Nggak lama kemudian, terdengar seperti ada yang membuka pintu bilik toilet. Mereka bertiga terus menunggu siapa gerangan yang berada di sana. Tapi, ternyata nihil. Kosong. Nggak ada satu orang pun yang berada di dalamnya.

Tiba-tiba Dinda berjalan ke arah stop kontak dan memainkannya, sehingga lampu nyala-mati. Matanya terus memandang ke arah bilik toilet misterius tadi.

“Din, kamu ngapain? Keluar yuk, nanti lampunya korslet. Kayaknya Pak Wisnu udah datang,” Alya berusaha bersikap tenang sambil menggandeng tangan Dinda.

Dinda terus menggeleng sambil tertawa-tawa, layaknya melihat hal yang menyenangkan. Melihat hal itu, Rahma menggeret paksa Dinda, diikuti oleh Alya. Karena, ia merasa ada yang nggak beres dengan temannya satu ini.

Lalu, Dinda melotot ke arah Rahma sambil meronta-ronta meminta dilepaskan. Tapi, Rahma terus mencengkeram tangannya.

“Arghh sialan!” Rahma mengumpat karena Dinda menggigit tangannya.

Tiba-tiba Dinda berlari keluar dari toilet dan berlai cepat ke arah salah satu ruang kelas di lantai 4 sambil tertawa-tawa.

“Ayo, sini kejar aku. Rahma katanya kamu malas ikut kelasnya Pak Wisnu, ya udah sama aku aja di sini,” katanya sambil tertawa cekikikan.

Rahma dan Alya menatap susana ruang kelas yang cukup gelap. Udaranya pun semakin dingin. Tapi, yang bikin mereka terdiam adalah tercium aroma bunga...melati!!

Sontak keduanya melarikan pandangan ke sosok Dinda di pojokan kelas. Ia berdiri sambil terus menatap ke arah meja dosen di ujung kelas.

Dengan memberanikan diri Alya berkata, “Din, balik yuk. Ada teman-teman lain di kelas. Kasihan pada nungguin kamu.”

“Ini tempatku dan ada temanku di sini. Kamu pergi! PERGIIIIII!!!” teriak Dinda dengan tatapan tajamnya.

Rahma menguatkan nyalinya untuk menghampiri Dinda. Meskipun terlihat tomboy dan slengean, tapi dia juga manusia biasa yang punya rasa takut.

“Woy, jangan ganggu Dinda! Siapapun kamu keluar dari tubuh Dinda!”

Setelah itu, Dinda pun berlari ke arah pintu kelas, tapi Alya berhasil mencegahnya. Kemudian, tubuh limbung dan langsung pingsan.

Rahma pun berlari menuju kelasnya dan memanggil teman-temannya untuk membopong Dinda menuju ruang kelas mereka. Seluruh mahasiswa dibuat heboh dengan kejadian yang menimpa gadis tersebut.

Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Dinda pun sadar. Ia tampak linglung dan wajahnya memancarkan.

“Minum dulu, Din,” Alya menyodorkan sebotol air.

Saat keadaan sudah mulai kondusif, Dinda menceritakan bahwa ketika di toilet ada sesosok perempuan yang menyerupai mahasiswi menghampiri dan melihat terus ke arahnya. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata, ia pergi begitu saja dan masuk ke dalam bilik toilet paling ujung tadi.

Saat Dinda kembali mengaca tiba-tiba mahasiswi itu sudah berdiri di belakangnya sambil melototkan matanya dan tubuhnya sudah ‘dikendalikan’.

Mendengar cerita tersebut, seluruh teman-temannya pun bergidik ngeri dan memutuskan untuk pulang saja. Bertepatan dengan itu, Pak Wisnu memberikan informasi kalau kelas ditiadakan dan menggantinya pada pertemuan minggu depan.

“Asemm! Nggak daritadi aja kek!” umpat Arif.

Setelah kejadian yang menimpa Dinda, banyak kejadian lain di lantai 4 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya. Lalu, mereka meyakini bahwa ada sosok tak kasat mata yang sengaja ‘menjahili’ mahasiswa di sana.

Teror Menyeramkan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN SUKA

Apakah kalian juga pernah mengalami kejadian horor yang serupa di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya? Sharing sama Sans dong.

Kira-kira kampus mana lagi nih yang harus Sans kunjungi untuk menceritakan kisah horornya? Atau masih mau kisah horor di UIN SUKA? Tulis komentar kalian di bawah ya.

Baca Juga: Misteri Senandung di Aula Kampus Sanata Dharma

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150