Cerbung

Suara Melodi Kematian di Balik Kisah Tragis Gedung Isola UPI

Nisrina Salsabila 29 Maret 2022 | 17:30:29

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Sans kembali lagi nih, menemani kalian dengan cerita seru yang membuat siapa saja merinding ketakutan. Nah, setelah menjelajahi Universitas Padjajaran (Unpad). Sans mau melancong lagi mengulas kisah mistis yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merupakan perguruan tinggi negeri yang berdiri pada 1954 di Bandung, Jawa Barat. Seluk beluk didirikannya kampus ini bermula dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru yang kemudian saat ini sudah menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum sejak tahun 2014.

Kampus ini memiliki bangunan kuno nan bersejarah, salah satunya adalah Villa Isola atau Gedung Isola yang kini digunakan sebagai kantor Rektorat UPI Bandung. Nama Gedung Isola sendiri diambil dari sebuah filsafat 'M Isollo E Vivo' yang berarti mengasingkan diri dan bertahan hidup.

Gedung dengan arsitektur khas Belanda ini, banyak menyimpan cerita masa lalu yang menarik untuk dikulik. Salah satunya adalah kisah tragis penghuni asli gedung tersebut hingga muncul suara-suara aneh seperti yang dikenal kebanyakan mahasiswa sebagai melodi kematian. Mengulik cerita mistis tentang Gedung Isola sangat menarik untuk dibahas. Maka dari itu, yuk Sans mulai ceritanya. Eh, jangan lupa untuk mengaktifkan mode horonya. Selamat membaca.

Namaku Ade, mahasiswa semester 4 yang lagi antusias banget sama yang namanya sejarah. Apalagi sejarah tentang masa lalu yang menyelimuti Kota Bandung.

Yap, bisa ditebak kan aku dari jurusan apa? Pendidikan Sejarah, itulah jurusanku. Alasanku masuk jurusan ini cuma karena satu hal, jangan ditanya apa. Aku sangat kagum dengan sejarah dibalik salah satu gedung tua beraksitektur Art Deco nan megah.

Sebelum masuk kampus ini, aku banyak mendengar cerita-cerita mistis yang menyelimuti gedung bersejarahnya. Tentu, aku nggak percaya begitu saja. Ya memang sih, bangunan tua gaya Belanda seperti itu nggak mungkin kalau nggak ada penghuninya.

Meninggalkan cerita penghuni yang nggak masuk akal bagiku, aku begitu terkesan dengan kemegahan bangunan kokoh ini. Apalagi di dalam gedung itu ada tulisan yang membuat siapa saja yang membacanya merasa damai.

M Isollo E Vivo..

Artinya 'mengasingkan diri dan bertahan hidup'. Persis motto hidupku yang saat ini penat dengan segala hal dalam perkuliahan. Salah satu cara untuk menghilangkan kepenatanku adalah berkunjung ke gedung ini.

Memandang taman yang asri dan megahnya arsitektur gedung. Terkadang aku juga mengingat kilas balik cerita tragis Gedung Isola.

Temanku, Virza pernah bercerita bertemu dengan sosok aneh hingga mendengar alunan melodi menyeramkan. Biasanya masyarakat sekitar dan mahasiswa UPI menyebutnya sebagai melodi kematian.

Entah bagimana asalnya sampai ada suara aneh seperti itu. Tapi, memang aura mistis gedung ini nggak bisa disembunyikan. Sampai aku mengalaminya sendiri..

Saat itu, aku sedang meneliti kisah bersejarah seorang keturunan Jawa-Belanda bernama Dominique Williem Berretty. Orang Belanda itu terkenal sangat kaya raya dan dipenuhi kehidupan glamor pada masanya.

Namun, siapa sangka kehidupan mewahnya menjadi mala petaka. Ada desas-desus yang sering kudengar saat berkunjung ke gedung ini. Salah satunya, menghindari berkunjung ke Gedung Isola saat malam hari.

Katanya banyak penampakan penghuni gedung yang sering muncul di malam-malam tertentu. Aku yang nggak percaya dengan hal itu memberanikan diri berkunjung selepas magrib.

Aku mengajak Virza, sohibku yang ku sogok habis-habisan untuk menemaniku. Tepat pukul 7 malam, aku berangkat dari tempat kos ke gedung tersebut.

"Ampun De, gue takut udah merinding banget nih," celoteh Virza memecah keheningan.

"Penakut banget lo Za, gini doang takut," timpal Ade.

"Lo aja sana masuk sendirian, nggak usah ajak gue segala," balas Virza.

"Yaelah Za, gue udah beliin lo rokok sama makan minum anj*r. Nggak tau utang budi banget lo," jawabku dengan ketus.

Sedikit melirik ke arah Virza, bibirnya maju sampai 5cm mendengar ocehanku. Virza mengikutiku dari belakang, saat sampai di taman Partere aku melihat beberapa mahasiswa yang masih nongkrong di sana.

Virza yang melihat pemandangan beberapa mahasiswa dan riuknya muda-mudi yang sedang dimadu asmara merasa sedikit lega. Raut wajahnya mulai tenang, nggak semrawut seperti awal masuk Gedung Isola.

"De, lo tau nggak sih cerita pemilik gedung ini? Katanya orang Belanda ya?" tanya Virza tiba-tiba.

"Tau lah Za, orang gue pernah neliti asal-usulnya sampe kisah hidupnya yang katanya tragis itu," jelasku.

"Beneran lo De? Berarti bisa jadi dong arwah penasaran yang sering muncul di gedung ini itu dia?" katanya.

"Kagak, ngadi-ngadi tuh. Setan itu nggak ada Za," balasku.

"Awas aje sampe lo ngalamin kejadian mistis di sini, baru tau rasa lo De," gerutu Virza.

Saat itu, aku menanggapi dengan seulas senyum mengejek pada Virza. Namun, ternyata kejadian yang nggak pernah terbayang selama 20 tahun hidup akhirnya beneran terjadi.

Tepat pukul 9 malam, aku masih ada di dalam gedung menikmati mahakarya arsitektur gaya Belanda yang megah itu. Ketika asyik memandangi tiap sudut gedung tiba-tiba saja..

Deg!

"Za! Sumpah nggak lucu lo matiin lampu gini, nyalain ga!" teriakku.

Anehnya, nggak ada sahutan sama sekali dari Virza. Aku menoleh keheranan di tengah kegelapan di gedung itu. Aku sendirian!

Aku mencoba nggak panik dan mengeluarkan ponsel lalu menyalakan senter. Perhalan kakiku berjalan entah ke mana, mengikuti arah naluriku.

Rasanya berat, langkahku seakan melemah ketika tiba-tiba saja aku merasa ada yang berjalan mengikutiku dari belakang. Aku menghiraukan hal itu, saat ini aku hanya berpikir bagaimana caranya keluar dari gedung menyeramkan itu?

Sreet..

"Za lu kalau godain gue, nggak gini juga anj*," bentakku.

Sekali lagi, nggak ada jawaban sama sekali dari Virza. Detak jantungku kian berdegup kencang, ku percepat langkah kaki ini sampai aku mendengar sesuatu...

Wilhelmus van Nassouwe ben ik van Duitsen bloed
Den vaderland getrouwe blijf ik tot in den dood
Een Prinse van Oranje ben ik vrij onvervaard
Den Koning van Hispanje heb ik altijd geëerd

"Bentar ini kan lagu kebangsaan Belanda?!" gumamku dengan sangat pelan.

Di tengah keheningan itu, aku mendengar instrumen lagu kebangsaan Belanda dengan iringan piano. Meskipun sangat pelan, tapi rasanya terdengar sangat keras di belakangku.

Entah kenapa saat itu, aku diam dan berpikir sejenak mendengarkan instrumen lagu itu. Dalam hati, aku mengucap semua ayat-ayat pendek yang ku ketahui.

Dengan langkah ragu, aura mistis di gedung ini sangat terasa. Ditambah dengan penerangan yang sangat minim, aku mencoba tenang tapi tiba-tiba..

Braak!!

"Nih senter kenapa ada acara jatuh segala sih?!" omelku dengan suara meninggi.

Sssttt...

Suara itu membuatku menoleh ke segala arah, persis suara wanita yang menyuruhku diam. Alunan melodi itu makin terdengar hingga rasanya memenuhi seluruh isi gedung.

Angin semilir yang entah dari mana, membuatku meloncat kaget dan berlari sekencang-kencangnya.

"TOLONGGGG!!!"

Teriakku dengan frustasi terjebak dalam situasi menyeramkan seperti ini. Belum usai suara piano ala Belanda yang selalu mengiringi langkah kakiku, suara lain pun datang.

Tap.. tap.. tap..

Ya benar, suara langkah kaki besar seperti berjalan ke arahku. Aku terus berlari mencari bantuan, berharap sohibku Virza masuk ke dalam gedung dan menolongku.

"Zaa.. Lu di mana? Tolongin gue," teriakku kembali dengan cemas.

Sssttt...

Aku terdiam mendengar kembali suara itu. Teringat akan kisah tragis pemilik gedung ini yang meninggal secara tiba-tiba karena sebuah kecelakaan pesawat.

Misteri kematian pemilik asli gedung itu, belum terpecahkan hingga kini. Tiba-tiba aku ingat ucapan Virza yang katanya penunggu gedung ini adalah pemiliknya sendiri, Berrety.

DEG!

Hosh.. hosh..

Aku terbirit-birit berlari menuju pintu keluar. Hingga akhirnya aku menemukan pintu itu dalam keadaan sudah tertutup.

Dug.. dug..

"TOLONGG!!"

Teriakku dengan kencang, namun malah..

Bruk..

"Eh, Ade lu kenapa hah? Ngapain woii tiduran di lantai?" ucap heran Virza yang kala itu menemukanku dalam keadaan pingsan.

Jelasnya, aku nggak tahu kejadian apa yang telah menimpaku malam itu. Tapi, suara alunan piano yang disebut sebagai melodi kematian makin terdengar kencang sampai-sampai aku pingsan nggak sadarkan diri.

Saat membuka mata, ku lihat Virza yang tengah mengobrol dengan penjaga gedung itu. Samar terdengar apa yang mereka bicarakan, sepintas penjaga itu menoleh dan bergegas melangkah ke arahku.

"Lain kali jangan masuk sendirian ke gedung itu pas malem mas," katanya.

Aku hanya mengangguk, pikiranku kalut setelah kejadian mistis yang ternyata menimpaku. Dari kejadian ini, aku mengiyakan bahwa memang gedung mewah ala Belanda itu ada penunggunya.

Terlepas siapa penunggu di sana, aku meyakini pula bahwa itu melodi kematian yang sering disebut mahasiswa UPI dan penampakan Berrety sang pemilik gedung.

Suara Melodi Kematian di Balik Kisah Tragis Gedung Isola UPI

Entah ada yang percaya atau nggak dengan cerita Ade itu. Namun, cerita tentang melodi kematian di balik Gedung Isola UPI menjadi legenda sampai saat ini.

Bagaimana menurut Sobat Zona, pernah mengalami kejadian serupa seperti Ade? Kalau ada, boleh nih sharing sama Sans tentang cerita horor yang ada di kampus kalian. Yuk, tulis di kolom komentar ya. Sampai jumpa.

Baca Juga: Kisah Penunggu Gedung PSBJ Unpad Jatinangor

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150