Berita

Rektor UMY Sebut Sekitar 20 Persen Alumni Belum Bekerja, Dosen Diminta Adaptif terhadap AI

Muhammad Fatich Nur Fadli 20 Agustus 2026 | 17:49:43

Zona MahasiswaRektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, menyoroti tren alumni UMY yang belum bekerja masih berada pada kisaran 20 persen.

Angka tersebut berasal dari survei alumni UMY selama beberapa tahun terakhir. Menurut Nurmandi, kondisi itu perlu menjadi bahan evaluasi perguruan tinggi dalam memastikan kompetensi yang diberikan kepada mahasiswa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Meski demikian, keterangan UMY tidak merinci periode survei, jumlah responden, maupun kategori alumni yang belum bekerja. Karena itu, angka tersebut tidak dapat langsung dipahami sebagai tingkat pengangguran seluruh alumni UMY.

Baca juga: Viral Aksi Baca Al-Qur’an Berhadiah Miras di The Sounds Project, Polisi Periksa Penyelenggara dan Newport

Nurmandi menyampaikan hal tersebut dalam Baitul Arqam Dosen Tetap UMY 2026 bertema “Peneguhan Komitmen untuk Mewujudkan Budaya Organisasi Berkemajuan”. Kegiatan itu berlangsung pada Rabu–Kamis (19–20/8/2026) di UMY Student Dormitory.

Dosen Diminta Terus Meningkatkan Kompetensi

Menurut Nurmandi, perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan tenaga kerja menuntut dosen untuk terus memperbarui pengetahuan.

Dosen tidak cukup hanya mempertahankan kompetensi yang selama ini dimiliki. Mereka juga perlu memahami perubahan karakter mahasiswa, kebutuhan industri, serta perkembangan teknologi yang memengaruhi dunia kerja.

“Kalau kita hanya bertahan dengan kemampuan yang ada, kompetensi kita bisa tidak lagi relevan,” ujar Nurmandi.

Peningkatan kompetensi dosen diharapkan membuat proses pembelajaran tetap relevan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan setelah lulus.

Lulusan Teknik Juga Membutuhkan Kemampuan Komunikasi

Nurmandi mencontohkan bahwa lulusan bidang teknik tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis.

Berdasarkan masukan pengguna lulusan, kemampuan berkomunikasi, melakukan presentasi, dan menyampaikan gagasan juga menjadi pertimbangan penting dalam dunia kerja.

Sebaliknya, mahasiswa dari bidang sosial perlu mendapatkan keterampilan teknis yang lebih spesifik. Hal ini diperlukan karena berbagai pekerjaan kini menuntut kemampuan praktis, bukan hanya pemahaman teori.

Karena itu, pembelajaran pada jenjang sarjana perlu memberikan lebih banyak kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi praktis sesuai bidangnya.

Kurikulum Perlu Mengikuti Perkembangan AI

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu perubahan yang harus diantisipasi perguruan tinggi.

Teknologi tersebut sudah digunakan oleh berbagai perusahaan untuk membantu proses analisis, administrasi, pelayanan pelanggan, hingga produksi konten. Kondisi ini turut mengubah jenis kemampuan yang dibutuhkan dari seorang lulusan perguruan tinggi.

Nurmandi menilai kurikulum tidak dapat dianggap sebagai sistem yang permanen. Evaluasi dan pembaruan perlu dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta kebutuhan dunia kerja.

Perguruan tinggi juga perlu menentukan kemampuan yang harus diperkuat ketika sebagian pekerjaan mulai dibantu atau diambil alih oleh AI.

Kemampuan berpikir kritis, menganalisis masalah, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab menjadi kompetensi yang perlu dipertahankan.

Adaptasi Tidak Hanya Menjadi Tugas Mahasiswa

Pesan Nurmandi menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi dunia kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa.

Dosen dan perguruan tinggi juga memegang peran penting melalui pembaruan kurikulum, metode pembelajaran, serta penyediaan pengalaman praktis bagi mahasiswa.

Tanpa perubahan tersebut, terdapat risiko kompetensi yang diajarkan di ruang kuliah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan setelah mahasiswa lulus.

Karena itu, peningkatan kompetensi dosen dan evaluasi kurikulum menjadi langkah penting untuk memperkecil kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja di tengah perkembangan AI.

 

Baca juga: Viral! MWCNU Kasembon Larang Mahasiswa KKN UMM Ikut Kegiatan Keagamaan Warga NU

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150