Berita

Prof Sugiyono: Namanya Ada di Daftar Pustaka Jutaan Skripsi, Namun Royaltinya Tidak Ia Nikmati Sendiri

Muhammad Fatich Nur Fadli 23 Mei 2026 | 13:56:56

Zona MahasiswaSobat Zona, jujur deh, siapa di sini yang ngerjain Bab 3 (Metodologi Penelitian) tanpa mengutip nama "Sugiyono"? Hampir mustahil!

Buat mahasiswa tingkat akhir dari Sabang sampai Merauke, nama Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd. sudah ibarat "pahlawan tanpa tanda jasa" yang sukses menyelematkan nyawa jutaan mahasiswa dari kejamnya revisian dosen pembimbing.

Tapi, tahukah kalian kalau di balik buku tebal sejuta umat itu, ada fakta mindblowing dan kisah inspiratif yang bikin kita semua auto-respect? Yuk, kita kenalan lebih jauh dengan sosok legendaris ini!

Baca juga: Bikin Publik Heran! Ferdy Sambo Ternyata Lanjut S2 Pakai Beasiswa dari Dalam Lapas

Plot Twist: Ternyata Lulusan S1 Teknik Mesin!

Banyak yang ngira kalau penulis buku metodologi penelitian paling legend ini adalah murni akademisi dari jurusan statistika atau metodologi. Ternyata salah besar!

Prof. Sugiyono aslinya adalah lulusan S1 Pendidikan Teknik Mesin. Lah, kok bisa bikin buku penelitian? Beliau mulai menulis buku ini karena sadar betul akan satu hal: literatur riset di Indonesia pada zaman itu bahasanya terlalu kaku, rumit, dan bikin mahasiswa pusing tujuh keliling. Berbekal niat mulia untuk menyederhanakan bahasa akademis itulah, buku-buku sakti karyanya lahir.

Raih 3 Rekor MURI & Dikutip 50 Ribu Kali

Niat baik memang selalu berbuah manis. Buku-buku karya Prof. Sugiyono akhirnya meledak dan dipakai lintas jurusan—mulai dari anak Teknik, Soshum, Ekonomi, Pendidikan, sampai Kedokteran!

Karyanya bahkan sukses menyabet tiga rekor MURI, dan profilnya di Google Scholar mencatat bahwa tulisan beliau telah dikutip (cited) lebih dari 50.000 kali di seluruh dunia. Kalau ini dihitung adsense atau royalti, pastinya nilainya sudah sangat fantastis.

Ultimate Flex: Royalti Bukan untuk Foya-foya, Tapi Bangun Masjid

Nah, di sinilah puncak rasa kagum kita kepada beliau. Punya predikat sebagai penulis mega-bestseller akademik tentu mendatangkan pundi-pundi royalti miliaran rupiah. Logikanya, beliau bisa saja pensiun dan hidup flexing dengan kemewahan.

Faktanya? Beliau justru memilih gaya hidup yang sangat membumi dan sederhana. Sejak tahun 2015, seluruh royalti dari penjualan bukunya diam-diam didonasikan murni untuk membangun masjid di kampung halamannya, yakni Desa Cindaga, Kebasen, Banyumas.

Puncak Ilmu Pengetahuan Adalah Pengabdian

Sobat Zona, Prof. Sugiyono memberikan kita sebuah "tamparan" yang sangat elegan. Beliau mengajarkan esensi sejati dari seorang kaum intelektual: Bahwa puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan bukanlah tentang seberapa banyak gelar di belakang nama, melainkan seberapa besar manfaat dan hasil ilmu tersebut bisa dikembalikan kepada masyarakat.

Beliau tidak pernah minta diingat, tidak pernah pansos di media sosial, dan memilih jalan sunyi yang sederhana. Tapi sejarah mencatat, namanya telah abadi lewat tinta di jutaan daftar pustaka skripsi kita, dan sebuah masjid berdiri kokoh menaungi doa-doa dari hasil keringatnya yang tak terlihat.

Ngaku deh, Sobat Zona, ada berapa buku Prof. Sugiyono yang nyangkut di Daftar Pustaka Skripsi kalian? Tulis di kolom komentar dan yuk kirimkan doa terbaik buat kesehatan beliau!

Baca juga: Mahasiswi Arsitektur UNHAS Meninggal di Area Kampus, Voice Note Terakhir: Bisa Jadi Saya Sudah Tidak Ada, Silakan Cari Saya di Belakang Kampus

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150