Cerbung

Penampakan Misterius Perempuan Bergaun Hitam di Unila

Zahrah Thaybah M 19 April 2022 | 13:18:17

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Seperti biasa Sans bakal menemani malam kalian dengan menghadirkan cerita horor dari berbagai kampus di Indonesia. Kalau kemarin kita berkeliling di Jawa, sekarang gimana kalau lanjut ke Sumatera? Kelihatannya memang nggak terjamah ya perguruan tinggi di luar Jawa, tapi siapa sangka bahwa berhasil bikin Sans penasaran akan cerita-ceritanya. Misalnya saja Unila.

Universitas Lampung atau Unila menjadi salah satu tempat terangker di Indonesia lho. Kampus pertama sekaligus tertua di Lampung ini didirikan pada 23 September 1965. Sama seperti kampus pada umumnya, Unila juga punya cerita mistis yang unik sekaligus mengerikan. Konon, ada sebuah cerita yang paling terkenal di sana, yaitu penampakan sosok hantu wanita di pohon beringin tua atau beringin cinta. 

Meksipun demikian, tempat ini menjadi salah satu favorit para mahasiswa untuk sekadar nongkrong, bersantai dari penatnya jadwal perkuliahan, belajar, bahkan berpacaran. Nggak heran sih, karena kawasan ini memang nuansanya teduh dan bikin nyaman.

Nah, biar Sobat Zona nggak penasaran lagi dengan kisah pohon beringin dan siapa sebenarnya sosok penunggu di sana, langsung aja Sans mulai ceritanya. Eh, jangan lupa matikan lampu dan aktifkan mode horornya. Selamat membaca!

Lalu, ia pun menjelaskan bagaimana konsepnya. Dimulai dari membagi kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 anggota. Kemudian, seluruh anggota kelompok akan berjalan sesuai rute jurit malam. Penerangan alias senter hanya diperbolehkan satu untuk setiap kelompok.

“Mantaaapppp. Setuju aku kalau begitu,” kata Aceng.

“Eh, tapi ada yang kurang ku lihat-lihat,” kata Gustav. Seluruh pasang mata pun menatapnya.

“Hadeh, lu orang masa nggak paham juga?” semua kompak menggeleng. Perasaan semua sudah disebutkan kok masih ada yang kurang?

“Kita lupa nggak nyantumin beringin di rute jurit malam,” katanya dengan wajah tanpa dosa.

Glek! Semuanya terkesiap. Beringin?

“Hah, beringin? Bercanda kau,” kata Adin sambil tertawa garing.

Siapa yang nggak tau dengan pohon beringin di Unila ini? Banyak banget kejadian-kejadian tak terduga seperti...ah sudahlah nggak baik bahas itu malem-malem begini.

“Kau lihat tampangku bercanda?” tanya Aceng pada kawan-kawannya.

“Tapi, kau tau kan gimana risikonya? Ayolah mereka masih maba Ceng. Masa iya nanti harus ngalamain hal-hal yang nggak seharusnya?” kali ini Putri membuka suara.

“Udah deh. Kalian ini kenapa sih? Bukannya makin seru kalau lewat beringin? Lagian sekarang mending bersihin otak kalian yang suka mikir negatif itu,” ujarnya dengan nada pongah.

“Bukan gitu Ceng. Kau mau kejadian kakak tingkat keulang lagi sekarang?” Putri masih bersikeras ingin Aceng memikirkan kembali hal konyol itu.

Suasana malam itu kian memanas. Semakin nggak sehat jika terus berlanjut. Karena baik Aceng dan kawan-kawan lain nggak ada yang mau mengalah.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa Adin pun menyetujui permintaan Aceng untuk menambahkan beringin sebagai rute jurit malam.

“Oke. Udah beres. Apapun yang terjadi di luar kehendak kita. Cuma semua pihak harus antisipasi sama hal-hal nggak terduga,” ujar Adin bijak.

“Kayak biasanya. Namti di setiap pos bakal ada panitia yang berjaga buat ngarahin peserta diklat saat jurit malam,” lanjutnya.

Nggak terasa rapat pun selesai hampir pukul 11 malam. Sudah terlalu larut, seperti biasa. Sialnya lagi, baru ingat kalau harus lewwat beringin itu.

“Alamak. Kenapa pula kita harus lewat tempat laknat itu?” keluh Ari.

“Yaudah lah mau gimana lagi? Kontrakan kita juga kebetulan lewat situ. Pasti gerbang lain udah pada ditutup sama Pak Udin. Kayak nggak kenal satpam kampus aja,” sahut Adin.

Kemudian, mereka pun bergegas naik ke motor dan bersama-sama keluar kampus.

Malam ini angin bertiup cukup kencang. Udara malam semakin menusuk kulit.

Brr..brrr..brrr

Ari benar-benar menggigil kedinginan. Salahnya sendiri lupa membawa hoodie.

“Anjir dingin kali. Bisa beku aku di sini,” sekali lagi Ari mengeluh lebay. Sedangkan, Adin yang menyetir motor hanya mendengus kesal.

“Kau bisa diam tidak?” sontak temannya itu langsung bungkam.

Gluduk..gluduk..gluduk

“Oi! Mau hujan tuh,” tau-tau saja motor Aceng menyejajari mereka. Sambil sesekali menoleh ke depan.

Brum..brumm..brumm

Ia memainkan gas motornya. “Seru nih kalau kita balapan di sini.”

“SINTING,” teriak Adin.

JDEERR

“WAAAAAA,” tiba-tiba suara petir menyambar dan mengejutkan mereka. Jadi, harus sedikit melajukan kecepatan motornya.

“Lah, tumben anak teater belum balik? Ada acara apaan?” tanya Ari saat melihat ada dua perempuan yang memakai gaun hitam.

“Nggak tau. Rupanya mau ada pagelaran kalo nggak cuma latihan biasa,” jawab Aceng.

“Oh gitu. Cantik kali mereka pakai gaun hitam. Pasti temanya kerajaan-kerajaan itu. Cindelaras,” ujar Ari.

“Semprul! Cindelaras dari Hongkong?” Adin mengumpat. Sudah nggak tahan lagi dengan temannya satu itu.

DUAAAARR

Suara petir kali ini begitu memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu, dua perempuan bergaun hitam tersebut menoleh ke arah mereka bertiga.

DEG! Jantungnya seketika akan melompat keluar. Tatapan Adin, Ari, dan Aceng terpaku kepada dua perempuan itu.

Bukan...bukan terpesona. Tapi, wajah perempuan itu terlalu mengerikan dan buruk rupa.

Kedua matanya hitam begitu pula dengan lingkaran di kelopak matanya. Sehingga terkesan tak memiliki bola mata. Wajahnya pucat dan sedikit hancur di pelipis hingga rahang. Bibir pucat serta terdapat bercak-bercak darah. Sementara rambutnya cukup berantakan walaupun bentuknya seperti berkonde.

Namun, bukannya kabur mereka malah tetap diam di tempat. Seolah seluruh kesadarannya terserap habis oleh dua makhluk bergaun hitam itu.

Dua perempuan itu terlihat berjalan mendekati para lelaki itu tetap dengan menampilkan wajah mengerikannya.

Segera tersadar, Aceng buru-buru menepuk badan teman-temannya.

“Alamaakkk. Oi..oii...sadar..sadaarr,” Aceng ini walaupun bertubuh gempal tapi tetap takut dengan makhluk tak kasat mata seperti itu.

Dirinya semakin panik saat dua perempuan bergaun hitam itu hanya berjarak beberapa langkah dari mereka bertiga.

“Woi bangsat!!” teriak Aceng pada Adin dan Ari yang masih setia menatap dua perempuan itu.

Ingin rasanya melajukan motornya meninggalkan dua temannya. Tapi, tak sampai hati.

Baru saja berniat melajukan motornya, sebelum suara jeritan Ari meginterupsi.

AAAAAAAAAAAA,”

Akhirnya, Adin berhasil kabur dan mengendarai motornya sekencang mungkin disusul oleh Aceng. Tidak peduli jika ada yang menegur bahkan menghukumnya karena melajukan kendaraan di atas rata-rata. Karena, kini yang terpenting adalah keselamatannya.

Ketika sudah terlihat gerbang Unila, ketiganya berpapasan dengan Pak Udin dan Pak Solikin.

“Hoshh..hoshh..hoshh. P-pak,” kata Ari mencoba menjelaskan tapi masih ngos-ngosan.

“Kalian kenapa kok kayak habis lari?”

Bagaimana tidak? Mereka sangat pucat dengan keringat mengucur deras. Belum lagi rambut yang habis tertiup angin kencang.

Lalu, Aceng menceritakan kalau habis melihat dua perempuan bergaun hitam di beringin.

“Oh, saya juga beberapa kali melihat. Memang sering muncul kalau jam 11-an gini,” kata Pak Udin santai.

Sontak mereka pun bergegas pamit dan kembali ke kontrakan masing-masing.

Penampakan Misterius Perempuan Bergaun Hitam di Unila

Entah percaya atau nggak dengan cerita tersebut, kembali ke masing-masing individu. Bagaimana menurut Sobat Zona, ada yang punya kisah sama seperti mereka?

Kalau ada, yuk sharing sama Sans. Nah, kalau menurut Sobat Zona kampus mana lagi ya yang harus Sans ulas tentang cerita horornya? Tulis di kolom komentar ya.

Baca Juga: Cerita Mistis Dosen Ghaib di Institut Pertanian Bogor (IPB)

 

 

 

 

 

 

 

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150