Zona Mahasiswa - Sobat Zona, kasus "tuyul" berkedok pengurus organisasi kampus kembali terjadi dan bikin publik geleng-geleng kepala. Kali ini, skandal memalukan datang dari Universitas Airlangga (Unair).
Seorang mahasiswi berinisial Yuni Ilma Permatasari, yang notabene menjabat posisi mentereng sebagai Menteri Keuangan di University Bidik Misi Organization (AUBMO), secara sadar telah menilap dana iuran sukarela mahasiswa penerima KIP-K Periode 2025-2026. Nggak main-main, nominal yang digelapkan tembus Rp 103.336.457!
Baca juga: Memanfaatkan Momentum Malam Jumat Kliwon, Mahasiswa UGM Gelar Aksi Teatrikal Santet Prabowo Gibran
Biar nggak makin penasaran dengan akal-akalan pelaku, mari kita bedah kronologi kasus pengkhianatan amanah ini!
Siasat Awal: Ngaku "Salah Transfer" ke Rekening Pribadi
Kasus ini pertama kali meledak dan viral setelah diunggah oleh akun Instagram @unairjournal pada Senin (15/6/2026). Akun tersebut melabeli tindakan ini sebagai sebuah "pengkhianatan fatal".
Dana yang ditilap Yuni sebenarnya adalah uang sumbangan sukarela dari mahasiswa penerima KIP-K yang rutin dikumpulkan setiap akhir semester. Tujuannya mulia, yakni untuk operasional organisasi dan kesejahteraan mahasiswa itu sendiri.
Namun, karena pengelolaannya tidak transparan, kecurigaan pun mulai muncul. Saat didesak dan dipertanyakan oleh internal organisasi, Yuni sempat berkelit dengan alibi klasik: sistem eror dan terjadi salah transfer dana. Tentu saja, kebohongan ini nggak bertahan lama. Sadar dirinya makin terpojok dan takut kasusnya meledak tak terkendali, ia akhirnya menyerah.
"Hingga akhirnya didorong oleh kesadaran penuh saya, sebelum kasus ini menjadi viral secara luas di publik, muncul niat baik saya untuk meluruskan semuanya," ungkap mahasiswi D4 Manajemen Perkantoran Digital angkatan 2023 tersebut.
Klarifikasi Pelaku: Terlilit Pinjol dan Biaya Rumah Sakit
Melalui video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram resmi @bidikmisikipkunair pada Kamis (18/6/2026), Yuni akhirnya "buka kartu". Ia mengakui bahwa uang ratusan juta tersebut ludes ia gunakan untuk kepentingan pribadinya yang mendesak.
Buat apa saja uang sebanyak itu?
- Melunasi utang Pinjaman Online (Pinjol)
- Membiayai kebutuhan hidup sehari-hari
- Biaya perawatan dan pemulihan orang tuanya yang sempat mengalami kecelakaan
Meskipun membeberkan alasannya, Yuni menegaskan bahwa ia tidak mencari pembenaran. Ia juga menjamin bahwa aksi "bersih-bersih rekening" ini murni inisiatifnya sendiri, tanpa melibatkan pengurus AUBMO lainnya.
"Kondisi dan kesulitan tersebut sama sekali bukan menjadi pembenaran atas tindakan saya. Saya menegaskan bahwa tindakan ini adalah murni perbuatan penyalahgunaan dana organisasi untuk kepentingan pribadi tanpa adanya keterlibatan dari pengurus maupun BPH AUBMO lainnya," tegasnya.
Janji Nyicil Rp 3,5 Juta Sebulan, Kampus Belum Lapor Polisi
Sebagai bentuk pertanggungjawaban (atau mungkin karena sudah ketahuan), Yuni berjanji akan mengembalikan seluruh dana tersebut secara utuh. Skemanya? Ia bakal mencicil Rp 3,5 juta per bulan. Ia juga menyatakan siap diseret ke ranah pidana atau perdata jika di kemudian hari ia mangkir dari cicilan tersebut.
Lalu, bagaimana respons pihak rektorat Unair melihat kelakuan mahasiswinya ini?
Rektor Unair, Muhammad Madyan, memastikan bahwa pihak kampus sudah turun tangan. Namun, penyelesaiannya saat ini masih terbatas pada ranah internal kampus. Saat ditemui pada Kamis (18/6/2026), beliau menegaskan bahwa belum ada sanksi resmi yang dijatuhkan maupun pelaporan ke kepolisian.
"Belum, belum ya ini masih diproses. Sanksi belum ya, nanti, ini masih proses (pemeriksaan). Tidak dilaporkan polisi ya," jelas Madyan singkat. Kampus berdalih ingin menyelesaikan kasus ini lewat mekanisme kode etik terlebih dahulu.
Integritas Kok Digadai Sama Pinjol?
Sobat Zona, kasus ini jadi tamparan keras buat dunia organisasi kampus. Miris rasanya melihat dana yang dikumpulkan dari keringat mahasiswa penerima KIP-K yang notabene adalah bantuan untuk keluarga kurang mampu, malah digelapkan oleh pengurusnya sendiri demi menutup lubang pinjol.
Ini jadi pengingat buat semua organisasi di kampus mana pun: Transparansi keuangan adalah harga mati! Jangan sampai jabatan bendahara atau menteri keuangan cuma jadi kedok buat bikin "rekening gendut" pribadi.
Baca juga: Mahasiswa UIN Semester 7 Gadaikan 40 Motor Teman, Raup Rp 135 Juta Untuk Foya-foya dan MiChat
Komentar
0

