Zona Mahasiswa - Sobat Zona, sungguh mengiris hati. Di saat sebagian dari kita mungkin sedang asyik memilah menu bukber di restoran nyaman, seorang pria paruh baya di Cianjur justru harus meregang nyawa dengan cara yang sangat tragis.
Bukan karena penyakit mematikan, melainkan tewas dihantam amarah hanya karena mengambil dua buah labu siam untuk sekadar menyambung hidup dan berbuka puasa.
Namanya Minta (56), seorang buruh serabutan yang raganya sudah ringkih. Ia menjadi korban penganiayaan membabi buta oleh tetangganya sendiri yang gelap mata akibat urusan perut seharga beberapa ribu rupiah. Mari kita bedah tragedi yang menjadi tamparan keras bagi nurani bangsa ini.
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Kronologi: Petaka Dua Buah Labu Siam
Melansir dari informasi yang beredar (salah satunya via Instagram @delete.id), peristiwa memilukan ini terjadi di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik, Minta mengambil keputusan nekat. Ia mengambil dua buah labu siam dari sebuah kebun. Niatnya sederhana: sayuran itu akan dimasak untuk menu berbuka puasa.
Nahas, aksinya dipergoki oleh UA (41), pria yang merupakan penggarap lahan tersebut sekaligus tetangga Minta sendiri. Di sinilah akal sehat dan empati mulai menguap.
Amarah Buta di Depan Mata Keluarga
Alih-alih memberikan teguran, menasihati, atau sekadar bertanya kenapa seorang lansia sampai nekat mencuri sayur murah, UA justru meresponsnya dengan perburuan layaknya menangkap kriminal kelas kakap.
UA yang tersulut emosi mengejar Minta hingga ke depan rumah korban. Di sana, perdebatan singkat terjadi. Tanpa memedulikan usia Minta yang sudah senja, dan bahkan di hadapan adik korban serta warga sekitar, UA melepaskan amarahnya secara brutal.
Dengan tangan kosong, UA menghujam area vital Minta berkali-kali:
- Mata
- Kepala
- Leher
Minta yang sudah tua dan lemah tak kuasa melawan pukulan bertubi-tubi tersebut. Ia tersungkur tak berdaya dengan hidung bersimbah darah, muntah-muntah, dan mengeluhkan pusing yang sangat hebat.
Perjuangan Terakhir & Dalih Pelaku
Warga dan keluarga yang panik segera melarikan Minta ke IGD RSUD Sayang Cianjur. Pria paruh baya itu sempat berjuang melawan luka parahnya selama dua hari di ranjang rumah sakit. Namun, takdir berkata lain. Pada Senin petang, 2 Maret 2026, Minta mengembuskan napas terakhirnya.
Di kantor polisi, pelaku UA mencoba membela diri. Kepada penyidik Polres Cianjur, ia berdalih bahwa tindakannya adalah "puncak kekesalan" karena hasil kebunnya selama ini sering hilang.
Kini, UA harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi tengah memproses kasus ini dengan ancaman kurungan penjara atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian, sembari menunggu hasil autopsi resmi untuk melengkapi berkas penyidikan.
Komentar
0

