Zona Mahasiswa - Sobat Zona, bersiaplah untuk patah hati berjamaah. Salah satu role model anak muda Indonesia yang sering dieluelukan karena prestasinya, Andhika Sudarman (Lulusan Harvard Law School, Awardee LPDP, dan CEO SejutaCita & Dealls), mendadak runtuh dari takhta kebanggaannya.
Bukan karena perusahaannya bangkrut, melainkan karena skandal yang sangat menjijikkan. Andhika diduga kuat melakukan pelecehan seksual verbal maupun fisik, serta manipulasi psikologis terhadap peserta program SejutaCita Future Leaders (SFL), di mana beberapa korbannya masih berstatus anak di bawah umur (SMP-SMA).
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Gelar mentereng dari universitas top dunia ternyata bukan jaminan moralitas yang baik. Mari kita bedah kronologi skandal memuakkan yang sedang menggoncang jagat X (Twitter) dan Instagram ini!
Bayar Rp30 Juta Buat Study Trip atau Scam?
Kasus ini pertama kali meledak bagai bom waktu pada Minggu (22/2/2026) melalui utas (thread) akun X @matchagreen100.
Bagi yang belum tahu, SFL adalah program Edu-Leadership Trip ke luar negeri yang menjanjikan networking ke kampus top dunia dan mentoring karier. Syaratnya? Peserta harus merogoh kocek fantastis, sekitar Rp30 Juta.
Namun, realitanya jauh panggang dari api. Akun @matchagreen100 menguliti borok SFL. Mulai dari manajemen acara yang amburadul, itinerary yang terburu-buru, tempat yang batal dikunjungi, hingga esensi study trip yang malah terasa seperti holiday trip biasa.
Tapi, kebobrokan manajemen itu belum ada apa-apanya dibandingkan sesi "mentoring" yang berubah menjadi mimpi buruk pelecehan.
Sesi Mentoring Berkedok Pelecehan Seksual & Grooming
Bagian ini yang bikin darah mendidih, Sobat Zona. Sesi mentoring yang seharusnya membahas beasiswa dan karier, malah diubah Andhika (AS) menjadi arena interogasi privasi dan dugaan grooming (manipulasi psikologis untuk tujuan seksual).
Berikut adalah daftar dugaan perilaku menyimpang AS kepada peserta (dengan nama samaran):
- Sumpah Tutup Mulut: Peserta dipaksa bersumpah tidak akan membocorkan percakapan jika ingin diterima di universitas impian. (Ini manipulasi relasi kuasa yang klasik!)
- Merendahkan Cita-cita: Meremehkan peserta (Mawar) yang belajar fashion, tapi di sisi lain memujinya dengan sebutan "cantik dan polos".
- Pertanyaan Intim Tak Relevan: Menanyakan kepada Mawar, "Dari 1000 teman laki-laki saya, berapa orang yang dapat dipercaya?"
- Ranah Privasi Agama: Menanyai peserta berhijab (Melati) apakah ada niat melepas hijabnya mumpung sedang di luar negeri.
- Sentuhan Fisik Tanpa Izin (Non-Consensual): Menepuk paha peserta (Lili) dengan dalih sok akrab, yang jelas-jelas melanggar batasan fisik.
- Cerita Dewasa ke Anak di Bawah Umur: Dengan sengaja menceritakan kisah temannya yang melakukan hubungan intim (sexually explicit conversation) kepada peserta yang masih belia.
Parahnya, setelah utas ini viral, banyak alumni SFL lain dan mantan karyawan di perusahaan Andhika (Dealls/KantorKu) yang speak up bahwa mereka juga pernah menjadi korban perilaku creepy serupa.
Klarifikasi Andhika: Minta Maaf atau Gaslighting?
Setelah bungkam beberapa hari, pada Senin (2/3/2026) kemarin, Andhika Sudarman akhirnya merilis pernyataan resmi via Instagram (@andhikasudarman_).
Ia merombak manajemen SFL dan menyerahkan kepemimpinan program tersebut kepada Geraldine Abigail. Namun, poin klarifikasinya terkait pelecehan seksual justru memicu kemarahan baru dari netizen.
"Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa gaya komunikasi saya dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang... Namun, secara tegas saya menyatakan tidak pernah melakukan, ataupun berniat melakukan pelecehan seksual..." tulis Andhika.
Ini adalah bentuk Non-Apology Apology. Ia tidak mengakui kesalahannya melakukan pelecehan, melainkan menyalahkan "gaya komunikasinya" dan "kesalahpahaman" audiens. Ia berdalih tidak ada "intensi" (niat). Padahal dalam kekerasan seksual, yang diutamakan adalah dampak pada korban, bukan sekadar niat pelaku.
Didepak dari Harvard Club of Indonesia (HCI)
Sanksi sosial bergerak lebih cepat dari hukum. Harvard Club of Indonesia (HCI) langsung mengambil sikap tegas tanpa babibu.
Melalui pernyataan resminya, Board HCI secara resmi mengakhiri hubungan Andhika Sudarman dari jajaran pengurus. Mereka juga menerima surat pengunduran dirinya dan memastikan Andhika tidak lagi punya panggung di institusi tersebut. Langkah cancel culture yang sangat tepat sasaran!
Komentar
0

