Zona Mahasiswa - Sobat Zona, siapa bilang anak IT cuma bisa coding buat bikin game atau sistem kasir doang? Kali ini, inovasi luar biasa datang dari persimpangan antara teknologi digital dan nilai-nilai religius.
Seorang mahasiswa dari Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi, Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari bernama Arya Apriawan, sukses bikin netizen takjub. Ia berhasil mengembangkan sebuah sistem deteksi berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang bisa mendeteksi jika gerakan atau rakaat salat kita berlebih. Keren banget, kan? Yuk, kita bedah seberapa canggih inovasi Arya ini!
Kolaborasi Computer Vision, OpenCV, dan Python
Buat Sobat Zona yang anak Teknik Informatika atau Sistem Informasi, pasti udah nggak asing lagi sama yang namanya OpenCV dan Python. Nah, di tangan Arya, bahasa pemrograman dan library computer vision ini disulap menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk umat.
Sistem yang dibangun Arya memanfaatkan teknologi computer vision untuk melacak dan mendeteksi gerakan secara real-time. Jika pengguna melakukan gerakan salat yang jumlah rakaatnya melebihi dari yang seharusnya, sistem ini akan mendeteksi potensi kesalahan tersebut secara otomatis.
"Sistem deteksi sholat yang melebihi rakaatnya menggunakan OpenCV2 Python," tulis Arya dalam caption video TikTok-nya.
Tujuannya sangat mulia: membantu meningkatkan ketepatan dan kekhusyukan umat Muslim dalam pelaksanaan ibadah salat.
Langsung Viral dan Banjir Apresiasi
Karya sehebat ini tentu saja nggak butuh waktu lama untuk meledak di internet. Sejak Arya mengunggah project tersebut ke akun TikTok-nya pada 7 April 2026 lalu, videonya langsung viral dan masuk FYP (For You Page).
Keesokan harinya, tepat pada 8 April 2026, inovasi ini mulai dilirik dan diunggah ulang oleh berbagai akun media nasional yang berfokus pada teknologi di Instagram. Dari sana, karya Arya makin menyebar luas dan mendapat sambutan luar biasa dari publik yang kagum dengan ide out of the box-nya.
Langkah Cerdas: Amankan Hak Cipta (HKI)
Sering kali, banyak inovator muda Indonesia yang karyanya viral tapi lupa mendaftarkan hak ciptanya. Tapi Arya beda! Sadar bahwa karyanya punya potensi besar, ia langsung gerak cepat mengurus perlindungan hukum atas karyanya melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
"Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap akhir administrasi. Nantinya, juga menyertakan jejak publikasi di berbagai platform media sosial sebagai bukti pendukung dalam pengajuan HKI," tutur Arya dalam rilis resminya, Jumat (24/4/2026).
Langkah Arya ini sangat cerdas dan patut ditiru oleh seluruh kreator mahasiswa di Indonesia. Publikasi viral di media sosial tidak selamanya cukup untuk melindungi ide dari klaim pihak lain, sehingga sertifikat HKI adalah tameng utamanya.
Teruslah Berinovasi!
Kisah Arya Apriawan adalah bukti nyata bahwa tugas akhir, project kampus, atau sekadar iseng ngoding di kamar kos bisa berubah menjadi inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Buat Sobat Zona yang lagi pusing debugging code yang error melulu atau lagi stuck nentuin judul skripsi, jadikan Arya sebagai motivasi. Carilah masalah di sekitarmu, lalu gunakan ilmu yang kamu pelajari di bangku kuliah untuk menyelesaikannya!
Baca juga: Viral! Kasus Pelecehan Seksual Dosen Unpad, Korban Mahasiswa Asing: Diminta Foto Pakai Bikini
Komentar
0

