Berita

Bukan Bocah Sembarangan, Anak SMP Subang Ini Temukan Celah di Sistem NASA!

Muhammad Fatich Nur Fadli 18 April 2026 | 17:26:19

Zona MahasiswaFiroos Ghathfaan Ramadhan, bocah 14 tahun asal Subang, berhasil meraih penghargaan dari NASA setelah menemukan celah keamanan dalam sistem digital lembaga antariksa tersebut.

Siswa kelas VIII SMP IT Al-Alamy Subang ini mengidentifikasi kerentanan menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT) dengan mengumpulkan URL dari Instagram, mengecek tautan satu per satu, hingga menemukan akun tidak aktif yang berpotensi disalahgunakan untuk phishing dan penyebaran informasi palsu.

Temuan Firoos dilaporkan ke NASA dan mendapat penghargaan yang ditandatangani Senior Agency Information Security Officer NASA, Kelvin Taylor pada Jumat (10/4/2026

Baca juga: Viral! 16 Orang Mahasiswa Hukum UI Melecehkan Mahasiswi dan Dosen Perempuan di Grup Chat

Firoos Ghathfaan Ramadhan, bocah asal Subang berusia 14 tahun, berhasil meraih penghargaan dari NASA setelah menemukan celah keamanan dalam sistem lembaga tersebut. Prestasi itu diraih saat Firoos, yang masih duduk di kelas VIII SMP IT Al-Alamy Subang, mengikuti program Vulnerability Disclosure. Ia berhasil mengidentifikasi potensi kerentanan dalam sistem digital NASA sebagai peneliti keamanan independen atau hacker etis. Firoos menjelaskan, penelitiannya dilakukan menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT), yakni metode pengumpulan data dari sumber terbuka.

“Awalnya saya mengumpulkan berbagai URL dari Instagram. Dari URL tersebut kemudian dilakukan pengecekan satu per satu link yang ada, untuk memastikan apakah masih aktif atau sudah tidak valid,” ujar Firoos saat ditemui di sekolahnya, Selasa (14/4/2026).

Setelah itu, ia melakukan validasi terhadap tautan yang ditemukan, termasuk memeriksa apakah link tersebut mengarah ke halaman yang sudah tidak tersedia atau akun yang tidak lagi digunakan. Jika menemukan tautan menuju akun tidak aktif, ia menganalisis potensi pengambilalihan (hijacking) dengan mengecek kemungkinan username tersebut didaftarkan ulang oleh pihak lain. “Kalau username masih tersedia, hal tersebut bisa berpotensi disalahgunakan, seperti untuk phishing maupun penyebaran informasi palsu,” katanya. Temuan tersebut kemudian dibuktikan melalui penyusunan proof of concept (PoC). Hasilnya menunjukkan bahwa akun yang dimaksud memang bisa didaftarkan kembali. “Hasil temuan saya kemudian disusun dalam laporan yang mencakup URL terdampak. Ini menunjukkan adanya bukti celah kerentanan serta analisis potensi risiko terhadap keamanan dan reputasi NASA,” ungkapnya.

Dapat Apresiasi dari NASA Laporan itu kemudian dikirimkan ke NASA dan mendapat respons positif. Penghargaan diberikan melalui surat resmi yang ditandatangani Senior Agency Information Security Officer NASA, Kelvin Taylor, pada Jumat (10/4/2026). Dalam surat tersebut, Kelvin menyampaikan bahwa kemampuan mendeteksi dan melaporkan kerentanan merupakan keterampilan yang sangat berharga di industri keamanan informasi global. “Pelaporan Anda telah membantu meningkatkan kesadaran NASA terhadap kerentanan yang sebelumnya tidak diketahui, serta membantu kami melindungi integritas dan ketersediaan informasi penting NASA,” tulisnya. Bangga dan Ingin Terus Belajar Firoos mengaku tidak menyangka penelitiannya mendapat apresiasi dari NASA. Ia menyebut penghargaan tersebut sebagai kebanggaan sekaligus kehormatan. “Saya sangat senang sekali. Ini sebuah kebanggaan bisa berkontribusi dalam menjaga integritas keamanan aset digital NASA,” ucapnya.

Ia pun berkomitmen untuk terus mengasah kemampuannya di bidang siber dan berharap bisa mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. “Saya masih belajar dan akan terus belajar. Semoga kemampuan ini bisa membantu pengembangan teknologi siber modern ke depan,” pungkasnya

Baca juga: Viral! Mahasiswi Ngaku Dilecehkan Oknum Dosen, Pelaku Dinonaktifkan Tapi Digaji: Rektor UBL Angkat Bicara

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150