Tips

Stop Normalisasi Ngerjain Jobdesk Orang Lain! Rame Orangnya, Tapi Bingung Kerjanya? Hati-hati, Itu Bukan Tanda Organisasi Solid…

Muhammad Fatich Nur Fadli 20 April 2026 | 11:06:52

Zona MahasiswaPernah nggak kamu ikut kepanitiaan atau organisasi kampus yang anggotanya puluhan orang, grup WhatsApp-nya selalu ramai, tapi pas eksekusi program kerja, yang sibuk lari-lari cuma orang yang itu-itu lagi?

Ada divisi acara yang tiba-tiba ikut ngurusin desain feed Instagram, atau ketua pelaksana yang malah sibuk nyari konsumsi karena seksi konsumsinya menghilang. Alih-alih menegur, banyak yang mewajarkan hal ini dengan dalih "Namanya juga organisasi, harus saling back-up, yang penting acaranya jalan."

Terdengar heroik memang. Tapi ketahuilah, menormalisasi mengerjakan jobdesk (deskripsi pekerjaan) divisi lain bukanlah tanda solidaritas. Itu adalah tanda bahwa sistem organisasimu sedang sakit parah.

Baca juga: Viral! 16 Orang Mahasiswa Hukum UI Melecehkan Mahasiswi dan Dosen Perempuan di Grup Chat

Kalau kebiasaan "palugada" (apa lu mau, gue ada) ini terus dibiarkan, ada bahaya besar yang mengintai di balik ilusi organisasi yang terlihat solid tersebut.

1. Membunuh Rasa Tanggung Jawab dan Regenerasi

Tujuan utama ikut organisasi di kampus adalah untuk belajar. Ketika kamu terus-terusan mengambil alih pekerjaan temanmu dengan alasan "dia kerjanya lelet" atau "biar cepet beres", kamu sebenarnya sedang merampas hak mereka untuk belajar dari kesalahan.

Anggota yang pekerjaannya selalu di-back-up akan terbiasa lepas tangan. Mereka merasa aman karena yakin akan ada "pahlawan" yang membereskan kekacauan mereka. Akibatnya, saat kepengurusan berganti, organisasi akan krisis kader yang kompeten karena selama ini mereka tidak pernah benar-benar dilatih untuk bertanggung jawab atas divisinya sendiri.

2. Burnout Parah Buat Si "Paling Bisa Diandalkan"

Di setiap organisasi, selalu ada segelintir orang yang kompeten, inisiatifnya tinggi, dan tidak tegaan. Merekalah yang biasanya jadi korban utama dari ketidakjelasan jobdesk.

Mengambil alih pekerjaan orang lain berarti menggandakan beban kerja dan pikiranmu sendiri. Ujung-ujungnya, kamu akan mengalami burnout (kelelahan mental dan fisik yang ekstrem). Akademikmu akan keteteran, emosimu jadi tidak stabil, dan lama-kelamaan kamu akan muak dengan organisasi itu sendiri. Ingat, mengorbankan kewajiban utamamu (kuliah) demi menutupi kemalasan orang lain di organisasi bukanlah sebuah pengorbanan yang bijak.

3. Rawan Overlap dan Konflik Internal

Ketika batasan jobdesk kabur, semua orang akan merasa berhak ikut campur dalam urusan divisi lain. Hal ini sangat rawan menimbulkan overlap atau tumpang tindih wewenang.

Misalnya, divisi humas sudah menghubungi pihak sponsor, tapi tiba-tiba divisi dana usaha juga menghubungi sponsor yang sama tanpa koordinasi. Selain memalukan di mata pihak luar, hal ini pasti akan memicu konflik internal, adu argumen, dan saling lempar kesalahan saat evaluasi.

Cara Mengobati Organisasi yang "Sakit" Ini

Mengandalkan kesadaran masing-masing anggota saja tidak cukup. Organisasi butuh sistem manajerial yang tegas untuk memaksa semua orang bekerja sesuai porsinya.

  1. Buat Timeline Harian dan Mingguan yang Kaku: Jangan hanya membuat target bulanan yang mengambang. Pecah setiap target divisi menjadi timeline pekerjaan harian dan mingguan. Dengan jadwal dari pukul 08.00 hingga tenggat waktu sore hari yang jelas, setiap anggota tahu persis apa yang harus mereka selesaikan hari itu tanpa perlu menunggu instruksi berulang-ulang.
  2. Sistematiskan Dokumentasi dan Pelaporan: Rapat evaluasi sering kali hanya berisi debat kusir kalau tidak ada bukti kerja. Buatlah format pelaporan yang seragam untuk semua divisi dan sediakan struktur folder pengarsipan (team archiving) yang terpusat. Jika semua anggota diwajibkan mengunggah hasil kerja harian mereka ke dalam folder tersebut, akan sangat mudah melacak siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya menumpang nama di struktur panitia.
  3. Tegur, Jangan Diambil Alih: Kalau ada anggota divisi yang kinerjanya di bawah standar, langkah yang benar adalah memberikan evaluasi, mengajarinya cara yang benar, dan menuntutnya untuk memperbaiki. Bukan malah merebut pekerjaannya dan mengerjakannya sendiri.

Kesimpulan

Organisasi yang sehat bukan dilihat dari seberapa sering anggotanya nongkrong bareng, tapi dari seberapa disiplin mereka menjalankan roda sistem. Biarkan setiap orang memegang kendali atas jobdesk-nya masing-masing, biarkan mereka berbuat salah, dan biarkan mereka belajar memperbaikinya.

Solidaritas itu adalah saling mendukung agar setiap orang bisa menyelesaikan tugasnya, bukan mengerjakan tugas mereka agar cepat selesai.

 

Baca juga: Viral! Mahasiswi Ngaku Dilecehkan Oknum Dosen, Pelaku Dinonaktifkan Tapi Digaji: Rektor UBL Angkat Bicara

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150