Zona Mahasiswa - Sobat Zona, ada kabar yang bikin kita, sebagai Generasi Z, harusnya merasa tersentil atau malah tersinggung? Selama ini kita bangga disebut digital native, generasi yang paling melek teknologi, paling cepat dapat informasi, dan paling jago multitasking. Tapi, sebuah laporan mengejutkan dari Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menampar kita dengan fakta pahit.
Bukan soal kenakalan remaja atau tawuran, tapi soal kemampuan dasar manusia: MEMBACA.
Ya, kalian nggak salah baca. Kampus-kampus top di Amerika Serikat sedang menghadapi krisis di mana mahasiswa Gen Z yang masuk kuliah ternyata tidak mampu membaca teks panjang dengan baik. Saking parahnya, para dosen dan profesor di sana sampai "mengibarkan bendera putih" alias menyerah dan terpaksa menurunkan standar akademik mereka.
Fenomena apa yang sebenarnya terjadi? Apakah otak kita sudah terlanjur "rusak" gara-gara TikTok dan ChatGPT? Dan pertanyaan terbesarnya: Kalau di negara maju seperti AS saja begini, bagaimana nasib literasi mahasiswa di Indonesia? Yuk, kita bedah tuntas fenomena mengerikan ini!
Profesor Frustrasi: "Mereka Gak Paham Kalimat"
Laporan investigatif dari Fortune mengungkap realita kelam di ruang kuliah AS. Bukan di kampus ecek-ecek, tapi di kampus bergengsi seperti Pepperdine University dan University of Notre Dame.
Jessica Hooten Wilson, Profesor Sastra di Pepperdine University, memberikan kesaksian yang bikin merinding. Menurutnya, mahasiswa Gen Z zaman now bukan cuma kesulitan berpikir kritis, tapi mereka gagal memproses kalimat.
"Saya merasa harus membaca keras-keras (di depan kelas) karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya. Bahkan ketika dibacakan di kelas, masih banyak hal yang tidak mampu mereka proses dari kata-kata yang ada di halaman," curhat Wilson.
Bayangkan, Guys. Mahasiswa kuliahan, tapi harus diajari membaca baris demi baris (reading aloud) kayak anak SD! Wilson bahkan terpaksa menghapus tugas membaca mandiri di luar kelas karena percuma, mahasiswanya nggak bakal paham.
Hal serupa dialami Timothy O'Malley, Profesor Teologi di University of Notre Dame. Dulu, ia biasa memberikan tugas membaca 25-40 halaman per pertemuan. Itu standar wajar mahasiswa. Tapi sekarang?
"Hari ini, jika Anda memberikan bacaan sebanyak itu, mereka sering kali tidak tahu harus bagaimana," ujarnya.
Para dosen ini akhirnya terpaksa menurunkan ekspektasi. Kurikulum diubah, bahan bacaan dikurangi drastis, demi mengakomodasi ketidakmampuan mahasiswa mencerna teks. Ini adalah tanda bahaya besar bagi dunia akademis.
Penyebab Utama: Otak "Scanning" & Generasi TL;DR
Kenapa sih Gen Z bisa sampai begini? Padahal kita tiap hari baca caption IG dan utas Twitter (X), kan?
Masalahnya ada di Pola Membaca. O'Malley menyebut Gen Z dibentuk dengan pola membaca scanning (memindai cepat) dan skimming.
1. Efek Video Pendek (Short-Form Content) Otak kita sudah terbiasa dengan format TikTok, Reels, atau Shorts yang durasinya 15-60 detik. Kita terbiasa dengan informasi instan, to the point, dan visual. Akibatnya, saat disuguhi teks panjang (buku, jurnal, novel), otak kita bosan dan menolak fokus. Kita mencari tombol "skip", padahal di buku nggak ada tombol itu. Mentalitas TL;DR (Too Long; Didn't Read) sudah mendarah daging.
2. Ketergantungan AI (ChatGPT) Ini yang paling relevan. O'Malley menyebut mahasiswa sekarang bertahan hidup dengan Ringkasan AI. Dikasih tugas baca jurnal 20 halaman? Masukin PDF ke AI, minta "Summarize this in 5 bullet points". Selesai. Kelihatannya cerdas dan efisien, tapi efeknya fatal: Otak kita kehilangan kemampuan untuk Deep Reading (membaca mendalam), menganalisis nuansa bahasa, dan merangkai argumen kompleks. Kita cuma tahu "kulit"-nya, tapi nggak paham "isi"-nya.
3. Generasi "Lost" Pandemi Jangan lupa faktor pandemi COVID-19. Dua tahun sekolah online dengan pengawasan minim membuat kebiasaan belajar merosot tajam. Banyak yang lulus SMA dengan skill literasi yang belum matang, lalu kaget saat masuk dunia kuliah yang menuntut kemandirian.
Refleksi Indonesia: Kita Lebih Parah?
Sobat Zona, kalau di Amerika yang sistem pendidikannya maju saja dosennya sudah "nyerah", gimana kabar Indonesia?
Jujur-jujuran aja deh.
- Berapa banyak dari kita yang baca buku teks kuliah sampai tamat? Atau cuma baca PowerPoint dosen?
- Berapa banyak yang ngerjain makalah murni baca referensi, bukan copy-paste blog orang atau minta ChatGPT bikinin?
- Berapa banyak yang baca berita cuma judulnya doang terus langsung komen ngegas?
Data PIAAC menyebutkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, minat baca orang dewasa di AS turun 40%. Di Indonesia? Berdasarkan data UNESCO dan PISA, literasi kita memang sudah lama "tiarap". Kita sering disebut darurat literasi.
Fenomena di AS ini adalah cermin masa depan kita. Jika mahasiswa Indonesia terus-terusan manja minta "kisi-kisi ujian" tanpa mau baca buku, dan dosen-dosen kita juga "lelah" dan akhirnya cuma ngasih nilai A biar nggak ribet, maka kita sedang mencetak Sarjana Kertas. Sarjana yang punya gelar, tapi nggak punya kapasitas otak untuk memproses informasi kompleks.
Bahaya Jangka Panjang: Kematian Berpikir Kritis
Mungkin kalian mikir, "Ah elah, Min. Yang penting kan nanti kerja bisa praktek, ngapain baca buku tebel-tebel?"
Eits, jangan salah. Kemampuan membaca teks panjang itu berkorelasi langsung dengan Critical Thinking (Berpikir Kritis).
- Kalau kamu nggak bisa baca teks panjang, kamu nggak bisa memahami kontrak kerja yang rumit (bisa ditipu bos).
- Kamu nggak bisa membedakan hoaks yang canggih dengan berita fakta.
- Kamu nggak bisa menyusun strategi jangka panjang karena otakmu cuma terbiasa mikir pendek (instan).
Membaca itu olahraga buat otak. Kalau nggak pernah olahraga berat (baca teks sulit), otot otakmu bakal lembek. Akibatnya, kita jadi generasi yang mudah dimanipulasi oleh politisi, influencer, atau algoritma media sosial.
Solusi: Detox Dopamin & Paksa Diri Baca!
Kabar baiknya, otak itu plastis. Masih bisa diubah. Sebelum dosen-dosen di Indonesia ikutan nyerah kayak di AS, yuk kita upgrade diri sendiri:
- Latihan Deep Reading: Luangkan waktu 30 menit sehari buat baca BUKU FISIK (bukan ebook di HP biar nggak kegoda notif). Paksa otakmu fokus. Awalnya emang sakit dan bosen, tapi lama-lama terbiasa.
- Gunakan AI dengan Bijak: AI itu asisten, bukan joki. Pakai AI buat cari referensi, tapi bacalah sumber aslinya sendiri. Jangan biarkan robot yang mikir buat kamu.
- Kurangi Scrolling: Kurangi konsumsi konten pendek yang bikin atensi kita pendek. Latih kesabaran.
Jangan Mau Jadi Generasi "Hah?"
Berita dari Amerika ini adalah tamparan keras. Gen Z punya potensi luar biasa dalam kreativitas dan teknologi. Tapi, jangan sampai kelebihan itu dibayar mahal dengan hilangnya kemampuan dasar literasi.
Masa iya, kita mau jadi generasi yang kalau diajak ngomong topik berat cuma bisa jawab "Hah? Gimana? Kepanjangaan, ringkasin dong!"? Malu dong sama jaket almamater.
Yuk, Sobat Zona, kita buktikan kalau Gen Z (terutama di Indonesia) nggak senaif itu. Buka bukumu, baca, dan kuasai dunia!
Gimana menurut kalian, Sobat Zona?
Komentar
0

