Cerbung

Sebuah Pernyataan Manis Eps. 07

Zahrah Thaybah M 24 Agustus 2021 | 16:11:21

Cahaya matahari menusuk indra penglihatannya. Sans terbangun di atas kasurnya, padahal semalam kan ia pingsan gara-gara ‘terpesona’ sama wajah mbak kunti si pengikut setianya.

“Udah sadar lo?” tiba-tiba Harsa muncul sambil bawain gue teh hangat.

“Udah. Kok bisa gue bisa di sini?”

“Elaaahh emang dasar elu nyusahin orang aja. Tuh pak satpam nelpon gue, bilang kalo lo pingsan. Akhirnya terpaksa gotong badan lu yang segede babon ke kosan,” ujarnya menggebu-gebu.

“Nggak ikhlas banget sih. Btw, beneran lo gendong gue ke sini? Demi apa?” agak nggak percaya juga sih soalnya si Harsa itu rada gesrek jadi siapa tahu aja mau ngibulin gue kan?

“Pikir aja sendiri!” makin sewot anjir.

Udahlah daripada pagi-pagi bikin emosi, mending gue makan aja sama nasi pecel yang nggak ada tandingannya ini. Bahkan, saking nikmatnya nggak sampai 15 menit selesai.

“Semalam lo ngapain ke kampus? Mau uji nyali?” tanya Harsa sambil merapikan bekas makanannya.

“Kagak. Gue emang niatnya mau ngerjain surat cinta itu dan ada yang ketinggalan di kampus.”

“Lagian lo aneh-aneh mulu dah. Kenapa nggak nelpon gue?” dengan wajah tanpa dosanya dia ngomong begitu? Asem nih orang.

“Heh! Lama-lama gue giles lo ya. Coba sekarang cek riwayat panggilan berapa banyak gue spam lo semalam!” enak aja si Harsa ini.

“Masa sih? Coba gue lihat dulu. Hehehe sorry deh emang capek banget badan jadi ya gitu,” katanya cengengesan.

Tanpa menanggapi omongannya gue langsung ke arah meja belajar dan lihat hasil kerja keras gue bikin surat cinta semalam. Ternyata not bad lah, meskipun agak menjijikkan sih menye-menye gitu. Gue udah kayak pria pemuja wanita hahaha.

“Sa, menurut lo gimana surat cinta gue?” sekalian aja minta penilaian dari si Harsa.

“Bagus kok, ya lumayan lah. Jago juga lo ya. Mantan playboy?” nyablak banget mulutnya minta ditapuk.

“Sembarangan, sekali lagi gue timpuk. Udah siap nih gue nembak si Meisie bidadari abad ini hahaha,” aneh efenya cewek itu bisa bikin gue mendadak gila dan calon bucin.

Sambil menanti hari esok gue mengerjakan tugas-tugas ospek yang sudah menggunung. Karena beberapa hari lagi, akan berakhir segala drama mahasiswa baru ini.

Untukmu Meisie perempuan ceria dan menyenangkan di waktu yang sama

Untukmu, yang datang dan mengubah semua rencanaku

Mengenalkanku dan membuatku percaya apa itu cinta

Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan bagaimana rasaku saat ini

Aku tenggelam di bola mata cantikmu dan hanyut dalam tatapanmu

Tapi saat ini aku memberanikan diriku untuk mengungkapkan isi hati kepadamu

Aku menyayangimu sangat, sejak pandangan pertama dan mungkin akan selamanya

Aku pun menerima apapun jawabanmu nantinya, karena pada dasarnya perasaan tak bisa dipaksakan

Tapi, aku berharap kau bisa membalasnya walaupun tak sebesar perasaanku terhadapmu

Dari yang mencintaimu,

Shankara Adibrata

Sontak siulan, tepuk tangan dan juga jeritan dari berbagai penjuru memenuhi gendang telinga gue. Gila gila gila ini berasa artis. Nggak tahu aja mereka kalo udah gemeteran apalagi waktu tatapan sama si Meisie.

“Hei Shankara, kamu kira ini ajang pencarian jodoh?” tiba-tiba suara ngebass itu menginterupsi sorak sorai di lapangan.

Tapi, bukan itu yang menjadi fokus gue. Melainkan Meisie yang nggak ada di tempatnya. Apa dia izin ke toilet?

Gue terus mengedarkan pandangan dan nggak nemu cewek itu. Jujur, cuma khawatir dia risih sama perasaan gue atau terbebani. Padahal, sebenernya ya emang mau nyatain perasaan juga.

Bukannya apa, gue cuma memanfaatkan kesempatan yang ada kan? Kalau nggak sekarang ya kapan lagi? Keburu Meisie diembat sama cowok lain.

Akhirnya, beberapa jam kemudian ospek berakhir dan gue mencari keberadaan Meisie di sudut-sudut kampus. Ternyata, dia dari arah perpustakaan. Lalu, yang bikin heran adalah wajahnya sedikit pucat dan jalannya melambat. Apa jangan-jangan sakit?

“Sans? Ngapain di sini? Aku kira udah balik,” katanya sambil menatap gue keheranan.

Gue mengusap wajah lega, “Iya tapi nyariin lo dulu soalnya dari tadi nggak ngeliat di lapangan. Habis dari mana?”

Meisie tertegun sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dengan ragu-ragu dia menjawab, “Aku tadi sedikit nggak enak badan, jadi ke UKS deh tiduran di sana,”

Wow, ternyata Mei pemberani juga ya, “Oh ya? Sampai mau maghrib begini? Nggak takut apa?”

Setelahnya, Mei cuma ketawa-ketawa aja.

“Mei, tentang surat cinta gue tadi jangan diambil hati ya. Anggap aja itu pujian buat lo hehehe,” anjir kok mendadak salting begini sih?

“Iya Sans, nggak papa kok hahaha tenang aja kali aku juga santai aja. Tapi, sorry kalau aku nggak bisa ngebales perasaan kamu. Aku nggak siap, karena ada sesuatu hal dan nggak bisa nyeritain gitu aja ke kamu,”

Jdeerrr serasa ada petir yang menyambar hati gue.

Udahlah Sans, kan lo sendiri yang bilang ke Meisie buat nggak terlalu musingin surat cinta itu. Tapi, kenapa kayak nggak mau dia lepas dari dia ya? Nggak rela aja gitu. Ucap gue dalam hati.

“Sans?” suaranya menyadarkan gue dari lamunan.

Tatapan matanya nggak seperti biasanya yang meneduhkan. Gue merasa ada hal aneh dan disembunyikan. Tapi, apa?

Sebuah Pernyataan Manis Eps. 07

Kira-kira apa yang terjadi dengan Meisie? Adakah sesuatu yang ia sembunyikan? Nantikan episode selanjutnya, ya!

Baca Juga: Si Putih Penunggu Jendela Kampus Eps. 06

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150