Berita

Riset: 2,45 Juta Remaja di Indonesia Tergolong Sebagai Orang Gangguan Jiwa

Muhammad Fatich Nur Fadli 08 April 2026 | 14:59:18

Zona MahasiswaSobat Zona, rentetan kasus tragis yang melibatkan mahasiswa di berbagai daerah belakangan ini seharusnya menjadi wake-up call (peringatan keras) bagi kita semua. Isu kesehatan mental atau mental health bukan lagi sekadar tren FYP di TikTok, melainkan krisis nyata yang sedang menggerogoti generasi muda Indonesia.

Sebuah riset berskala nasional bertajuk I-NAMHS (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey) yang berkolaborasi dengan University of Queensland dan Johns Hopkins University, baru saja merilis data yang sukses bikin merinding. Ternyata, jutaan remaja kita sedang bertarung sendirian melawan isi kepalanya sendiri. Yuk, kita bedah fakta mengejutkan dari riset ini!

Baca juga: Mahasiswa Untirta Kepergok Rekam Dosen di Toilet, Isi Galeri HP-nya Mengejutkan!

Angka yang Bikin Shock: 2,45 Juta Remaja Terdiagnosis ODGJ

Selama ini, Indonesia selalu krisis data valid soal kesehatan mental remaja. Nah, temuan I-NAMHS ini akhirnya mengisi kekosongan tersebut, dan hasilnya sangat mengkhawatirkan:

  • 1 dari 20 remaja Indonesia (sekitar 5,5%) usia 10-17 tahun terdiagnosis memiliki gangguan mental alias masuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Angka realnya? 2,45 Juta Jiwa!
  • Hampir 35% (15,5 Juta remaja) terdiagnosis memiliki setidaknya satu masalah kesehatan jiwa, sehingga masuk kategori Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Artinya, belasan juta anak muda kita berada di jurang kerentanan.

Berdasarkan data di atas, gangguan apa yang paling banyak menyerang? Jawabannya adalah Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder), disusul oleh Depresi Mayor, Gangguan Perilaku, PTSD (Stres Pascatrauma), dan ADHD.

Si Anxiety yang Sering Diremehkan

Sobat Zona, pernah nggak sih kamu merasa dada sesak, panik luar biasa, atau takut berlebihan sampai gemetar hanya karena mau presentasi di kelas atau memikirkan ujian besok? Hati-hati, itu bisa jadi gejala Social Phobia atau Generalized Anxiety Disorder.

Gangguan kecemasan ini bukan sekadar "Ah, kamu kurang healing aja" atau "Lebay banget sih". Ini adalah kondisi medis yang serius akibat gagalnya otak meregulasi stres (bisa karena faktor genetik, lingkungan, atau keluarga).

Dampaknya nggak main-main. Riset membuktikan bahwa 83,9% remaja yang mengalami gangguan mental mengalami kerusakan fungsi di ranah keluarga. Mereka jadi sering berkonflik dengan orang tua, sulit bergaul dengan teman sebaya (62,1%), hingga performa akademik di sekolah/kampus yang hancur berantakan (58,1%).

Akses Susah & Stigma 'Kurang Ibadah'

Pertanyaannya, kalau datanya se-ngeri ini, kenapa banyak yang nggak ke psikolog? Jawabannya ada pada sistem dan stigma masyarakat kita yang masih toxic:

  1. Kelangkaan Profesional: Di Indonesia, nyari psikolog klinis atau psikiater itu ibarat nyari jarum di tumpukan jerami, apalagi kalau kamu tinggal di luar kota besar. Rasionya cuma ada 0,29 psikiater dan 0,18 psikolog per 100.000 penduduk!
  2. Takut Dihakimi: Berdasarkan riset UI dan Unpad (2021), banyak remaja yang enggan ke faskes karena merasa layanannya tidak menjamin kerahasiaan (privacy). Sedihnya lagi, remaja sering kali malah dihakimi, diceramahi "kurang ibadah", atau dianggap kurang bersyukur saat berani curhat soal depresinya.

Kita Butuh Safe Space, Bukan Penghakiman!

Mengetahui angka 2,45 juta ini seharusnya membuat pemerintah, pihak sekolah/kampus, dan keluarga langsung bergerak cepat.

  • Untuk Kampus & Sekolah: Jangan cuma menuntut nilai tinggi dan prestasi. Tenaga kependidikan harus peka dan menyediakan layanan konseling yang benar-benar aman, rahasia, dan gratis untuk anak didiknya.
  • Untuk Keluarga: Rumah harusnya jadi tempat pulang yang paling aman, bukan sumber luka (inner child). Orang tua wajib mengedukasi diri tentang mental health agar bisa merangkul anak remajanya, bukan malah memarahi mereka saat sedang terpuruk.

Dan untuk Sobat Zona yang sedang berjuang: Validasi perasaanmu. Lelah, cemas, dan menangis itu manusiawi. Jangan pernah menyerah untuk mencari bantuan, ya!

Bagaimana pendapat kalian tentang temuan riset ini, Sobat Zona?

Baca juga: Viral! Mahasiswi Ngaku Dilecehkan Oknum Dosen, Pelaku Dinonaktifkan Tapi Digaji: Rektor UBL Angkat Bicara​​​​​​​

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150