Cerbung

Ngeri! Tangisan Hantu Wanita di Universitas Airlangga (Unair)

Nisrina Salsabila 19 Januari 2022 | 19:16:17

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Gimana kabarnya hari ini? Semoga baik dan sehat selalu ya. Sans balik lagi nih dengan cerita-cerita horor yang bikin kalian penasaran. Kali ini Sans akan membawa kalian ke Universitas Airlangga (Unair).

Perguruan tinggi ini merupakan kampus yang berdiri pada tahun 1954 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno karena bertepatan dengan hari pahlawan. Kampus ini mempunyai banyak kisah menarik tentang dinamika perkuliahan hingga terselip cerita mistis yang turut mewarnai kehidupan mahasiswa di Universitas Airlangga (Unair). Salah satunya adalah tangisan hantu wanita yang cukup terkenal di kampus tersebut.

Nah, biar Sobat Zona nggak penasaran dengan kisah tangisan hantu wanita di Universitas Airlangga (Unair). Yuk, Sans mulai ceritanya. Eh, sebelum itu jangan lupa untuk matikan lampu dan aktifkan mode horornya supaya lebih seru! Selamat membaca.

Bagas, salah satu mahasiswa baru Universitas Airlangga (Unair) yang sibuk dengan berbagai organisasi. Nggak aneh rasanya, jika ia selalu pulang larut malam karena tanggung jawabnya itu. Sampai suatu ketika, ia mulai merasa janggal dengan sesuatu.

Suara itu terus terdengar sampai dirinya tiba di parkiran. Hingga akhirnya, Bagas memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Isak tangis pelan seorang wanita terdengar jelas di balik pohon itu.

"Tolong...," ucap wanita itu.

Memutar ulang sebelum Bagas mendengar suara aneh itu. Pukul 8 malam, ia baru saja selesai mengikuti kelas. Sebelum rapat koordinasi, ia menyempatkan untuk makan malam.

"Eh, Sat. Teko rapat opo gak awamu?" tanya Bagas.

"Hmm.. Males asline tapi wajib teko," balas Satrio.

"Lah lapo males? Tumben banget," tambahnya.

"Pasti sampek bengi, ngurangi jam turuku ae," ucap Satrio seraya bergegas memasukkan makanan ke mulutnya.

Bagas memang terkenal akrab dengan Satrio, walaupun mereka bukan satu angkatan. Bisa dibilang, Satrio adalah kakak tingkat Bagas saat ini. Entah kebetulan atau nggak, Bagas dan Satrio pernah suka sama cewek yang sama.

Meskipun pernah adu mulut, mereka tetap kompak dalam kegiatan apapun termasuk organisasi. Meninggalkan kisah pertemanan mereka, baik Bagas dan Satrio akhirnya menyelesaikan makan malamnya.

Nggak seperti biasanya, hari ini suasana kampus lumayan sepi dari hari kemarin. Biasanya meskipun menjelang larut malam pun, kampus ini akan ramai karena banyak mahasiswa yang nongkrong sambil mengerjakan tugas.

Mereka berdua berjalan mengitari setiap sudut kampus. Dalam keheningan, dari kejauhan terdengar suara berat memanggil mereka.

Rek!

Sontak Bagas langsung menoleh dan pandangannya tertuju pada laki-laki yang memanggil mereka. Sementara Satrio, masih asyik mendengarkan musik hingga nggak mendengar panggilan itu.

"Anj** ngageti ae arek iku," gumam Bagas seraya menepuk bahu Satrio.

"He rek bareng, merinding kate mlaku dewean," kata Kevin yang berlari ke arah Bagas.

Satrio mengangguk mengiyakan, sedangkan Bagas kembali berjalan sembari celingukan ke sana kemari menajamkan penglihatannya di setiap gedung. Maklum aja, karena di kampus ini banyak gedung tua jadi terkesan sedikit horor.

Lima menit kemudian, mereka bertiga sampai dan sudah banyak mahasiswa lain yang telah berkumpul. Suasana sepi mendadak berubah menjadi ramai seketika. Satrio pun sedikit berlari menghampiri pujaan hatinya.

Bagas dan Kevin hanya tersenyum geli melihat kelakuan Satrio. Malam itu pun, mereka habiskan dengan rapat yang diselingi senda gurau. Ditengah-tengah candaan itu, Satrio tiba-tiba membahas tentang cerita hantu yang ada di kampusnya.

"Rek, ngerti cerito setan nangis iku a?" ucap Satrio.

"Gak, ndek ndi emang? Iku lho mek omongan tok nggak bener-bener kejadian," timpal Bagas seraya bergegas menuju toilet.

"He iyo, aku tau krungu cerito iku. Medeni asline," balas Kevin.

"Opo maneh jarene iku biyen ono wong bunuh diri terus gentayangan sampe saiki," tambah Satrio.

"Aduuuh! Mulai merinding iki wesan," ujar Kevin.

Kevin merasa angin malam itu sedikit dingin dari biasanya, apa mungkin karena habis turun hujan ya? Padahal, udara di sekitar Surabaya terkenal panas meskipun malam hari. Yah terlepas dari itu, pokoknya suasana malam itu sedikit mencekam dan bikin merinding tentunya.

Begitu pula dengan Bagas yang merasa merinding ketika balik dari toilet. Ia merasakan suasana yang sangat hening di sekitarnya. Rasanya seperti ada yang melototinya dari arah parkiran.

Karena kepo, ia berjalan menuju parkiran dan memastikan nggak ada orang atau mahasiswa lain di sana. Perlahan langkah kakinya sampai di parkiran yang sangat sepi, tapi masih ada beberapa motor yang terparkir.

"Woy! Ono sopo nde kene? Metuo ae rek," serunya.

Krik krik..

Hanya ada suara jangkrik yang berderik di tempat itu. Karena nggak ada siapa-siapa. Sedikit bayangan sempat terlihat di ekor mata kanan Bagas. Ia semakin yakin bahwa ada seseorang di tempat itu. Semakin ia ragu, semakin terasa aneh suasana di sekitarnya.

Kretek.. kretek.. kretek..

Seperti suara ruji sepeda yang sengaja dimundurkan oleh seseorang. Ternyata Bagas tetap tidak menemukan sesuatu. Lantas, ia pun kembali ke tempat temannya berkumpul.

Deg!

Bagas menoleh ke belakang, sepintas seperti ada yang lewat tepat di belakangnya. Perasaannya sangat kacau, ia bahkan segera melantunkan ayat-ayat suci..

"Anj*** opo iku sing lewat ndek mburiku," batinnya seraya berlari ketakutan.

Hosh hosh...

"Lapo gas mlayu-mlayu?" tanya Kevin.

"Eh, emm.. enggak mek kaget ono kucing iku lho," balasnya dengan bohong.

Rapat pun dimulai kembali dengan suasana yang sangat kondusif. Tepat pukul 11 malam, mereka menyudahi rapat koordinasi tersebut.

Satrio izin cabut duluan karena ingin mengantar Citra, pujaan hatinya. Sementara, Kevin menunggu Bagas yang masih ribet dengan urusan pribadi.

Kring..

"Halo, assalamualaikum. Kenapa Mir?" tanya Bagas dengan seorang cewek di teleponnya.

"Mau minta tolong, ambilin buku di sekber dong. Tadi ketinggalan," balas cewek bernama Mira.

"Oh oke, nanti tak anter ke kosmu," timpal Bagas yang langsung bergegas mematikan telepon.

Bagas menghampiri Kevin yang telah menunggunya di ujung sana. Mengatakan pada temannya agar pulang lebih dulu, karena ia harus mengambil bukunya Mira.

Tersisa hanya Bagas di tempat itu. Suasana yang kian malam makin sepi, membuat dirinya sedikit merinding. Ia teringat dengan kejadian tadi, Bagas pun segera menuju ruang sekretariat bersama (sekber).

Hanya beberapa detik saja ia berada di sana. Bagas makin merasa ada yang mengikutinya. Dari kantong, ia segera mengambil kunci motor dan berlari menuju parkiran.

Mulutnya mengucap ayat-ayat suci sedari tadi untuk mengusir siapa saja yang mengikutinya. Bagas memang berpikir bahwa ia diganggu penunggu di kampus itu.

"Ya Allah opo maneh seh iki! Please ojo ganggu aku," gumamnya seraya memasang helm.

Ia menyalakan mesin motornya, namun dihentikan seketika karena mendengar suara tangisan wanita.

Huhuhuhuuuu...

Suara tangisan itu pelan tapi terdengar sangat menyedihkan. Bagas yang nggak berani menoleh, akhirnya hanya melihat dari spion kaca motornya.

Dari situ, terlihat seorang wanita yang menunduk menangis sendiri. Ia merasa kasihan dengan wanita tersebut, lantas Bagas pun mencoba mengajaknya berbicara.

"Mbak kenapa? Kalau mau bareng, saya anterin deh. Jangan nangis di sini mbak," katanya.

Sama sekali nggak mendengar jawaban apapun. Hanya terdengar suara isak tangis wanita itu yang makin menjadi-jadi.

"Mbak ayo bareng aja sama saya," ucapnya lagi.

Kembali nggak ada respon sama sekali dari wanita tersebut. Bagas penasaran dengan wanita itu, ia berpikir mungkin memang ada mahasiswi yang habis putus cinta lalu menangis di situ.

Set.

Bagas menoleh dengan cepat dan...

Brakk!!

Ia jatuh bersamaan dengan motornya. Seorang wanita memakai gaun hitam bersimbah darah memandang Bagas dari kejauhan. Wanita berambut panjang yang menutup sebagian wajahnya itu menangis tersedu-sedu.

Bagas gemetaran dengan hebat, keringatnya pun bercucuran dengan deras. Tepat di depan matanya berdiri seorang wanita dengan pisau yang menancap diperutnya.

Ia ingin lari tapi dirinya kaku seperti patung. Mata Bagas melotot ke arah wanita itu, rasanya ingin teriak tapi seperti ada duri yang nyangkut di tenggorokannya.

"Huhuhuhuuu... tolong," ucap wanita itu dengan sangat lirih.

Aaaakkkhhhh!!!

Teriak Bagas yang berlari meninggalkan motornya. Ia segera menelepon Kevin untuk menjemput dirinya.

Tut Tut.

"Shit! Kevin iki nang ndi, ya Allah jauhkan hamba dari setan itu," ucapnya dengan nada bergetar.

Bagas lari menuju pos satpam, berharap ada orang di sana. Ternyata, kosong nggak ada siapa pun. tiba-tiba ia kaget dengan suara motor.

Ceklek.

"Astagfirullah!!" teriak Bagas.

"Opo Gas, nelpon aku? Untung sek ndek ngarep kampus," tanya Kevin.

"Ayo moleh disek," kata Bagas yang segera naik ke motor temannya.

Sesaat setelah tiba di kosan, Bagas menceritakan panjang lebar tentang kejadian tadi. Raut wajah Kevin kaget karena hantu yang tadi ia bicarakan dengan Satrio, malah memperlihatkan diri ke temannya Bagas.

Semenjak kejadian itu, setiap kali berada di parkiran ia selalu bergegas dan nggak pernah menoleh ke belakang. Bahkan ia sering minta temannya untuk menunggui dirinya ketika sedang berada di tempat itu. Cerita Bagas ini pun sampai terdengar ke telinga mahasiswa lain dan banyak dari mereka yang percaya dengan kisah tersebut.

Ngeri! Tangisan Hantu Wanita di Universitas Airlangga (Unair)

Hmm, entah ada yang percaya atau nggak dengan cerita di atas. Bagaimana menurut Sobat Zona, pernah mengalami kejadian serupa seperti Bagas? Kalau ada, boleh nih sharing sama Sans tentang cerita horor yang ada di kampus kalian. Yuk, tulis di kolom komentar. Sampai jumpa.

Baca Juga: Penampakan Menyeramkan Penunggu Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM)

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150