Berita

Drama Perebutan Takhta Keraton Surakarta: Dua Putra Pakubuwana XIII Klaim Gelar Raja PB XIV, Dualisme Raja Solo Kembali Terulang!

Muhammad Fatich Nur Fadli 18 November 2025 | 17:46:43

Zona MahasiswaKeraton Surakarta Hadiningrat kembali dilanda sengketa perebutan takhta yang mengulang sejarah kelam pasca-wafatnya seorang raja. Setelah wafatnya SISKS Pakubuwana XIII pada awal November 2025, dua putranya—KGPAA Hamangkunagoro alias KGPH Purboyo dan KGPH Hangabehi alias KGPH Mangkubumi—sama-sama mengklaim sebagai penerus takhta kerajaan, yang kini berujung pada dualisme raja di Keraton Solo.

Konflik ini persis mengulang peristiwa raja kembar yang terjadi pada tahun 2004 setelah Pakubuwana XII meninggal dunia, di mana dua putranya (KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan) sama-sama menobatkan diri sebagai Pakubuwana XIII.

Baca juga: Bom Rakitan Meledak di Masjid SMAN 72 Jakarta Utara Jelang Salat Jumat Diduga Aksi Balas Dendam Siswa Korban Bullying

Kubu Pertama: KGPH Purbaya (PB XIV Purbaya)

KGPH Purbaya, putra bungsu mendiang PB XIII dan yang sebelumnya telah diangkat sebagai putra mahkota (KGPAA Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram VI) pada 2022, menjadi pihak yang pertama mendeklarasikan diri.

Deklarasi dan Penobatan (Jumenengan):

  • Aksi Cepat: Purbaya mendeklarasikan diri sebagai penerus takhta sesaat sebelum memberangkatkan jenazah ayahnya menuju Pajimatan Imogiri pada Rabu (5/11).
  • Jumenengan Resmi: Purbaya kemudian menjalani penobatan resmi (Jumeneng Nata Binayangkare) sebagai SISKS Pakubuwana XIV pada Sabtu (15/11). Dalam upacara Keprabon Dalem di Siti Hinggil, ia membacakan Sabda Dalem di atas Watu Gilang.
  • Konsolidasi Kekuatan: Setelah Jumenengan, Purbaya langsung menaikkan gelar kepada lima pendukung utamanya, termasuk tiga kakak perempuannya (GKR Rumbay Kusuma Dewayani, GRAy Devi Lelyana Dewi, dan GRAy Dewi Ratih Widyasari) dan dua paman mendiang ayahnya (KGPH Benowo dan KGPH Adipati Dipokusumo). Kenaikan gelar ini, menurut GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, adalah Sabda Raja sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka mendudukkan Purbaya sebagai Raja.

Kubu Kedua: KGPH Mangkubumi (PB XIV Mangkubumi)

Klaim Purbaya mendapat penolakan keras dari sebagian keluarga Keraton, termasuk adik-adik mendiang PB XIII yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), yang memilih mendukung putra lain, KGPH Mangkubumi.

Penolakan dan Pertanyaan Wasiat: Mangkubumi dan pendukungnya mempertanyakan keabsahan surat wasiat mendiang PB XIII yang diduga mendukung Purbaya. Mangkubumi mengaku tidak pernah melihat surat wasiat tersebut dan merasa tidak diajak rembug (bermusyawarah) soal suksesi.

"Sampai hari ini saya tidak diberi tahu wasiat Sinuhun (Pakubuwana XIII) itu seperti apa, jadi belum ada kesepakatan, belum diajak rembug," kata Mangkubumi.

Penobatan Mangkubumi: Merasa diabaikan, delapan hari setelah wafatnya raja, beberapa adik mendiang PB XIII yang digawangi KG Panembahan Agung Tedjowulan mengadakan pertemuan di Sasana Handrawina pada Kamis (13/11).

  • Pangeran Pati: Dalam pertemuan tersebut, Mangkubumi dinobatkan sebagai Pangeran Pati (calon raja) dengan gelar KGP Adipati Anom Amangkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram.
  • Raja PB XIV: Lima belas menit kemudian, ia diantik sebagai Raja Keraton Surakarta dengan gelar SISKS Pakubuwana XIV.
  • Konsistensi Adat: Ketua LDA, GRAy Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menyatakan bahwa prosesi Jumenengan Dalem PB XIV Mangkubumi akan digelar setelah masa berkabung selesai, menunjukkan konsistensi mereka terhadap adat.

Sejarah yang Terulang: Raja Kembar di Keraton Solo

Sengketa ini merupakan déjà vu bagi Keraton Surakarta. Dualisme raja ini mengingatkan pada konflik tahun 2004, di mana dua putra PB XII, KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan, sama-sama mengklaim gelar PB XIII. Sengketa tersebut berlangsung bertahun-tahun, diwarnai pecah kongsi, pembelotan, hingga bentrok fisik antar kubu.

Kini, dengan dua raja yang sama-sama bergelar SISKS Pakubuwana XIV, Keraton Surakarta kembali memasuki babak baru konflik takhta yang kompleks dan menguras energi.

Baca juga: Mahasiswa Yatim Piatu Tewas Dikeroyok saat Numpang Tidur di Masjid Agung Sibolga

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150