Zona Mahasiswa - Lagi asyik menyusun Bab 2 atau mencari referensi untuk proposal, tiba-tiba kamu menemukan satu jurnal yang isinya terasa sangat pas. Variabelnya persis, metode penelitiannya sejalan, dan hasilnya dijelaskan dengan sangat gamblang.
Tapi, senyummu langsung luntur begitu melihat tahun terbitnya: 2017, atau bahkan 2014. Padahal, dosen pembimbing sudah mewanti-wanti dengan tegas, "Referensi jurnal wajib 5 tahun terakhir ya!"
Lalu, apakah jurnal sebagus itu harus dibuang begitu saja ke tempat sampah digital?
Baca juga: Mahasiswa Untirta Kepergok Rekam Dosen di Toilet, Isi Galeri HP-nya Mengejutkan!
Jawabannya: Belum tentu. Kamu masih bisa menggunakan jurnal tersebut, asalkan kamu paham aturan mainnya dan tahu cara berargumen jika dosen menanyakannya. Berikut adalah panduan menyikapi referensi jurnal yang sudah "kedaluwarsa".
1. Pahami Alasan Dosen Meminta "5 Tahun Terakhir"
Sebelum protes, kamu harus paham logika dosen. Ilmu pengetahuan itu berkembang sangat cepat. Apa yang dianggap benar lima tahun lalu, bisa jadi sudah dipatahkan oleh penemuan baru hari ini.
Kewajiban menggunakan referensi 5 tahun terakhir bertujuan agar penelitianmu (State of the Art) berada di garis depan perkembangan ilmu pengetahuan. Ini sangat krusial, terutama untuk jurusan yang trennya bergerak cepat seperti Teknik Informatika, Ilmu Komunikasi (media digital), atau Bisnis Digital. Mengutip data perilaku konsumen tahun 2015 untuk skripsi tahun 2026 tentu sudah tidak relevan karena belum ada faktor pandemi, TikTok Shop, atau AI.
2. Pengecualian Mutlak untuk Grand Theory (Teori Dasar)
Aturan 5 tahun terakhir tidak berlaku jika jurnal atau buku yang kamu temukan adalah sumber asli dari sebuah Grand Theory atau teori fondasi.
Jika kamu membahas Hierarki Kebutuhan, kamu sah-sah saja (dan justru disarankan) mengutip langsung buku Abraham Maslow tahun 1943. Jika kamu membahas teori keunggulan komparatif, mengutip David Ricardo dari abad ke-19 adalah hal yang wajar. Dosen tidak akan memarahi jika jurnal lama tersebut adalah akar dari sebuah teori yang belum terbantahkan hingga detik ini.
3. Jangan Jadikan Acuan Utama (Jurnal Pendamping)
Jika jurnal tua yang kamu temukan bukan Grand Theory melainkan jurnal penelitian biasa (penelitian empiris), kamu tetap bisa memasukannya ke dalam skripsi, tapi jangan jadikan sebagai rujukan utama.
Posisikan jurnal tersebut sebagai pelengkap narasi sejarah masalah atau sebagai pembanding di Bab 4 (Pembahasan). Misalnya, kamu bisa menulis narasi: "Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Peneliti X (2016) yang menyatakan bahwa..., penelitian terbaru menunjukkan pergeseran tren..." Dengan cara ini, kamu tetap bisa memakai idenya, tapi justru memperlihatkan bahwa ada pergeseran fenomena dari masa lalu ke masa kini.
4. Gunakan Trik Snowballing (Melacak Kutipan)
Ini adalah trik paling cerdas kalau kamu terlanjur "jatuh cinta" dengan konsep di jurnal lama tersebut. Alih-alih memaksakan memakai jurnal tua itu, gunakan jurnal tersebut sebagai batu loncatan untuk menemukan jurnal terbaru.
Caranya sangat mudah:
- Buka Google Scholar.
- Ketik judul jurnal lama yang bagus tersebut.
- Di bagian bawah judulnya, klik tulisan "Dirujuk oleh [angka]" atau "Cited by [angka]".
- Google Scholar akan menampilkan daftar semua jurnal yang pernah mengutip jurnal tersebut.
- Filter pencarian di sebelah kiri layar menjadi "Sejak 2022" atau 5 tahun terakhir.
Boom! Kamu akan menemukan puluhan jurnal baru dengan konsep yang mirip atau bahkan menyempurnakan jurnal lamamu, namun dengan tahun terbit yang sangat aman dari coretan dosen.
Kesimpulan
Aturan "5 tahun terakhir" diciptakan untuk menjaga relevansi penelitianmu, bukan untuk menyulitkan. Jika kamu menemukan grand theory, silakan pakai meski usianya sudah puluhan tahun. Namun jika itu adalah penelitian terapan biasa, gunakan trik pelacakan kutipan di Google Scholar untuk mendapatkan versi pembaruannya.
Skripsi yang bagus adalah skripsi yang tidak kehilangan jejak masa lalu, namun tetap berpijak kuat pada kondisi masa kini
Komentar
0

