Inspirational Story

Spirit Dunia Pendidikan Dono Warkop DKI hingga Anaknya Sang Ahli Nuklir

Nisrina Salsabila 06 November 2022 | 15:42:11

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Siapa sih yang tak mengenal sosok komedian legendaris Dono Warkop? Di balik wajahnya yang terkenal kocak, ternyata pendidikan Dono tak bisa disepelekan lho.

Sebab di antara personel Warkop DKI, Drs. H. Wahyu Sardono atau akrab disapa Dono merupakan anggota yang paling rajin dalam bidang pendidikan. Hal tersebut terbukti atas gelar akademis yang diperolehnya hingga jenjang pascasarjana di Universitas Indonesia (UI).

Bukan hanya Dono, namun juga anak keduanya bernama Damar Canggih Wicaksono yang berhasil menamatkan S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga mendapat beasiswa di Swiss dan menyelesaikan pendidikan S3 serta bergelar Doktor di bidang Nuklir.

Baca Juga: Vita Alamsyah, Engineer SpaceX Milik Elon Musk dan Magang di NASA

Riwayat Pendidikan Dono Warkop

Dono lahir di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 30 September 1951. Ia menghabiskan masa kanak-kanak hingga sekolah di sana. 

Komedian itu bersekolah di SD Negeri Kebon Dalem Klaten dan SMP Negeri 2 Klaten yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3 Surakarta yang dikenal sebagai salah satu sekolah negeri favorit di Kota Solo.

Ketika lulus di bangku SMA, Dono melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan Sosiologi. Selama masa kuliah, ia terkenal menjadi salah satu mahasiswa aktif.

Terlebih, tercatat dia pernah bekerja di bagian redaksi surat kabar seperti di Tribun dan Salemba sebagai seorang karikaturis. Ia juga aktif menjadi anggota kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) bersama rekannya Kasino dan Nanu yang kemudian membentuk grup lawak bernama Warkop.

Dono, Kasino, Rudy, dan Nanu pun pernah menjad penyiar di Radio Prambors. Pada 1976 Indro saat itu baru bergabung dan kemudian membuat segmen acara radio dengan tajuk obrolan santai dan penuh jenaka.

Namun, dua personel lainnya bernama Nanu dan Rudy tak lagi aktif menjadi anggota Warkop karena mengalami demam panggung. Warkop DKI dengan formasi tiga orang semakin laris manis di pasaran hingga meluncurkan judul-judul film seperti Gengsi Dong (1980), Gantian Dong (1985), dan Saya Duluan Dong (1994).

Terhitung terdapat lebih dari 30 judul film yang berbau jenaka diperankan oleh anggota Warkop DKI. Meski sudah ditayangkan berulang-ulang, namun masyarakat Indonesia tak henti-hentinya menyaksikan kekocakan mereka.

Di balik sosoknya yang lucu di depan kamera, Dono merupakan seorang yang sangat tegas dan seirus dalam hal pendidikan. Sifat asli Dono berhasil diungkap oleh Indro Warkop ketika berbincang dengan Vincent dan Desta.

Dari perbincangan santai tersebut, Indro mengungkap Dono seorang dosen killer atau dosen yang banyak ditakuti mahasiswanya. Mendiang Dono ternyata dikenal sebagai dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Bahkan dalam certanya, salah satu anggota Warkop bernama Nanu Moeljono alias Nano pernah tak lulus ujian mata kuliah yang diampu oleh Dono. Atas keseriusannya, Dono sampai meminta Nanu untuk belajar dengan giat agar lulus mata kuliahnya.

Bukan hanya kepada Nanu, namun juga Indro yang diatur jadwalnya untuk belajar daripada berakting bersama anggota Warkop. Dono dengan tegas menyuruh teman-temannya untuk fokus belajar setelah syuting film.

Dari sini tak sediit warganet yang merasa kagum dengan sosok Dono Warkop yang selalu mengutamakan pendidikan meski sudah menjadi seorang artis papan atas. Sayangnya, Dono sudah berpulang pada 30 Desember 2001 silam karena mengidap penyakit kanker paru-paru.

Riwayat Pendidikan Damar Canggih Wicaksono

Rupanya kepintaran dan kecerdasan sosok Dono Warkop menurun kepada sang anak bernama Damar Canggih Wicaksono. Anak Dono tersebut dikenal sebagai seorang ahli nuklir hingga memiliki berbagai pengalaman dan prestasi.

Damar merupakan lulusan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil Teknik Nuklir pada tahun 2004 hingga 2009. Tak berhenti di situ saja, ia kemudian melanjutkan studi S2 di Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL) pada tahun 2010 dengan jurusan Teknik Nuklir pula.

Ia diketahui lulus dengan predikat memuaskan (cumlaude) saat menempuh pendidikan di UGM dan berhasil mendapatkan beasiswa Swiss Government Excellence Scholarship ketika menempuh S2.

Kemudian pada tahun 2018, ia melanjutkan S3 di universitas yang sama dengan mengambil jurusan Fisika. Karirnya pun dimulai sebagai Safety Analyst Intern pada tahun 2011 di Leibstadt Nuclear Power Plant selama empat bulan.

Selanjutnya, ia menjadi Analyst Intern di Paul Scherrer Institur (PSI) selama empat bulan dan berhasil menyelesaikan masa magangnya pada November 2012.

Pada Januari 2013, di kampus yang sama yaitu PSI, Damar menjadi Doctoral Assistant (Laboratory for Reactor Physics and System Behaviour) di Swiss dan sudah bekerja selama lima tahun lebih.

Pada Juni 2018, ia menjadi Postdoctoral Researcher (Chair of Risk, Safety, and Uncertainty Quantification) di ETH Zurich selama hampir 2 tahun lamanya.

Terakhir, pada Juli 2021 Damar menjadi Postdoctoral Researcher (Center for Advanced Systems Understanding) di Helmholtz-Zentrum Dresden-Rossendorf (HZDR) hingga sampai saat ini.

Mengenai prestasi yang diraihnya, Damar pernah mendapatkan penghargaan Best Paper Award dan Best Student Paper Award, ketika dirinya berada di PSI (Paul Scherrer Institut) pada tahun 2014.

Kemudian pada Mei 2018, ia mendapatkan penghargaan sebagai Best Professional Paper pada 3rd Best Estimate Plus Uncertainty International Conference (BEPU 2020) yang diadakan di Lucca, Italia.

Spirit Dunia Pendidikan Dono Warkop DKI hingga Anaknya Sang Ahli Nuklir

Itulah ulasan mengenai perjalanan dunia pendidikan komedian legendaris Dono Warkop DKI yang dikenal sebagai dosen killer hingga anaknya yang menjadi seorang ahli nuklir.

Semoga ulasan ini bermanfaat bagi Sobat Zona. Jangan lupa untuk terus mengikuti berita seputar mahasiswa dan dunia perkuliahan, serta aktifkan selalu notifikasinya.

Baca Juga:  Kisah Moorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Kecanggihan Mobil Tesla

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150