Cerbung

Kisah Nyata Penampakan Hantu Setengah Badan di Universitas Brawijaya (UB)

Nisrina Salsabila 30 Desember 2021 | 20:13:09

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Sans balik lagi nemenin kalian dengan cerita horor dari berbagai universitas di Indonesia.

Hmm, setelah berpikir panjang Sans memutuskan untuk tetap stay di Universitas Brawijaya (UB). Sebab kampus ini punya banyak cerita horor yang sangat menarik untuk dikulik.

Kalau dari cerita sebelumnya, banyak Sobat Zona yang makin penasaran dengan cerita horor di kampus ini. Nah, tenang aja, kali ini Sans bakal menceritakan kisah nyata penampakan hantu setengah badan yang ada di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB).

Langsung saja, biar nggak makin penasaran yuk simak ceritanya di bawah ini. Eits jangan lupa matikan lampu dan aktifkan mode horornya, biar lebih seru! Selamat membaca.

Jumat itu, hari yang sangat melelahkan buat Sans yakni harus mengikuti kuliah malam sekaligus latihan teater. Biasanya, latihan teater memang diadakan pada malam hari tapi rasanya hari ini sedikit berbeda buat Sans. Ya mungkin karena kelelahan saja karena seharian berada di kampus.

Tepat pukul 21.00 WIB, Sans baru aja selesai mengikuti kelas tambahan yang membosankan. Sebelumnya, memang nggak ada informasi sama sekali tentang latihan teater. Sans sudah siap-siap mau pulang, eh ketu kelas ngumumin bakal ada latihan teater.

"Rek, hari ini ada latihan teater. Tempatnya bisa dikondisikan, mau di sekitar parkiran atau dekat gazebo Widyaloka nggak apa-apa," ucap ketua kelas.

Rasanya nggak semangat sama sekali, sudah capek ada latihan teater pasti sampai tengah malam nanti selesainya. Pukul 22.00, kelompok Sans sudah mulai berdatangan dan kami berkumpul di parkiran sebelah gazebo Gedung Widyaloka.

"Mulai yok, udah ngantuk nih," kata Novi teman baik Sans.

Anggota yang lain termasuk Sans pun mulai melakukan pemanasan, tujuannya biar nggak kaku pas latihan teater nanti. 10 menit usai melakukan peregangan, Sans kembali duduk sembari memperhatikan situasi sekitar yang sepinya minta ampun.

Padahal, biasanya jam segitu masih banyak mahasiswa fakultas sebelah yang masih nongkrong di sekitar gazebo Gedung Widyaloka. Tapi ternyata, hari itu sepi dan suasananya agak ngeri gitu pokoknya.

Wajar kan kalau Sans celingukan ke kanan ke kiri, heran aja sama situasi di sana. Apalagi tempat yang Sans gunakan buat latihan malah nggak ada lampunya, ya cuma cahaya remang-remang di sekitar gazebo.

"Nggak enak gini suasananya, ah dah lah bodo amat mau latihan aja terus balik kosan," batin Sans.

Jujur aja, Sans agak merinding ketika suara gamelan mulai dibunyikan. Bukan iseng kok, memang musik gamelan merupakan salah satu lagu pengiring di teater Sans.

Bisa ditebak kan, kelompok Sans bakal membawakan teater bertemakan adat Jawa alias kejawen. Satu per satu teman-teman Sans memperagakan adegannya diiringi dengan musik gamelan.

Nggak lama kemudian, giliran Sans masuk memainkan adegan selanjutnya. Mendekati adegan akhir, tiba-tiba teman Sans yang duduk di sekitar gazebo berteriak dan mereka kocar-kacir berlarian.

AAAKKKHHHHH

"Heh ngapain kok teriak?" tanya Sans sembari berlari mengikuti anggota kelompok lainnya.

"Ini lho kaget, tiba-tiba mati lampu cobak," ucap Acel.

"Astaga kirain apa, yuk balik lagi ke sana," balas Novi.

"Jangan deh, nggak enak perasaanku merinding pol," kataku.

"Kenapa? Nggak ada apa-apa kali perasaanmu aja," ujar Novi.

Mau nggak mau Sans menuruti keinginan kelompok yang masih ingin latihan di sana. Meskipun perasaan Sans sudah nggak karuan, rasanya seperti ada yang mengawasi dari arah gazebo Gedung Widyaloka.

Di sana, kelompok Sans sudah latihan teater berulang kali dan kita sedang menunggu giliran untuk dipanggil tampil di depan asdos. Apesnya, kita mendapat giliran terakhir dan di sinilah cerita mistis Sans di mulai.

Akhirnya, Sans memutuskan kembali ke fakultas yang ada di seberang Gedung Widyaloka. Bersama teman yang lainnya, Sans duduk berbincang sembari bermain gadget.

Suasana makin sepi, tinggal 30 menit lagi tepat pukul 00.00 WIB. Anak yang lainnya pun mulai merebahkan diri di teras fakultas, sementara Sans malah menerawang jauh mengamati sisi gazebo di gedung itu. Setelah lama mengawasi, Novi yang terbangun dari tidurnya kemudian mengajakku mengobrol hal nggak penting.

"Tau nggak sih, katanya di sana tempatnya horor banget," kata Novi sembari menunjuk salah satu sudu gazebo Gedung Widyaloka.

"Udah kerasa kali dari tadi, kemane aja Anda," candaku.

"Sumpah? Ada apaan di sana?" jiwa kepo Novi meronta-ronta.

"Nggak tahu, nggak bisa lihat," jawabku singkat.

Setelah pembicaraan tersebut selesai, nggak lama kemudian kelompok kami di panggil untuk tampil di depan asdos. Untungnya, kita tampil di parkiran belakang fakultas yang memang luas tempatnya. Tapi tempat itu nggak kalah seremnya sama gazebo Gedung Widyaloka.

Hawa malam yang dingin menusuk tulangku, angin sepoi-sepoi dari dua pohon beringin makin membuat bulu kudu ini merinding.

Deg.

Lagi-lagi, ada mata yang selalu mengikuti gerak-gerik Sans. Nggak enak rasanya, sampai Sans mendongak ke arah pohon beringin itu tapi ternyata nihil nggak ada apa-apa.

"He kamu ngapain lihat ke atas? Abis ini adeganmu cepet siap-siap," tegur asdos.

Sans hanya mengangguk mengiyakan teguran asdos dan fokus melanjutkan latihan teater. Setengah jam lamanya bergulat dengan latihan teater, akhirnya selesai juga. Kami pun berkemas dan kembali berkumpul di depan fakultas untuk membicarakan pentas teater minggu depan.

Tiba-tiba...

Sayup terdengar suara wanita di seberang sana memanggil nama Sans. Sontak diriku kaget dan mencari-cari asal suara tersebut. Tapi, tetap nihil nggak ada tanda dedemitan di sekitar gazebo itu.

Kuteguk minuman di tanganku, sembari memainkan ponsel sesekali melirik ke arah suara tadi. Sambil menunggu jemputan, Sans akhirnya mengarahkan kamera ponsel tepat ke arah gazebo Gedung Widyaloka.

Pertamanya hanya iseng saja, sekedar gabut dan pingin memotret pemandangan sekitar. Selesai memfoto, kembali terdengar suara wanita yang memanggil nama Sans.

Sepoi angin malam sekitar pukul 01.30 WIB membuatku sangat merinding saat itu. Perlahan Sans melihat dari kejauhan ada seorang wanita berambut panjang yang memandang ke arah kami.

"Nov, keknya ada orang deh di gazebo sana," kataku.

"Mana? Nggak ada orang sama sekali tuh," ucap Novi.

"Astaga itu lho, mbak-mbak rambutnya panjang sepinggang lagi ngawasin kita," balasku.

"Jangan nakutin deh, udah pagi nih menjelang shubuh bahkan," ujar Novi yang tiba-tiba mendekat ke arahku.

Setelah mendengar jawaban itu, Sans diam dan kembali memperhatikan wanita di ujung sana. Anehnya, wanita itu sama sekali nggak berkutik, hanya diam memandang ke arahku.

Sebenarnya Sans sudah merinding takut kalau itu bukan manusia alias demit. Tapi ya positif thinking saja, mungkin wanita itu salah satu mahasiswa yang sedang praktikum juga. Namun, karena penasaran Sans akhirnya kembali mengarahkan kamera ponsel ke wanita itu.

KLOTAK...

"ASTAAAGFIRULLAHH!!!!" teriakku sambil berdiri.

Deg deg deg

Ponselku terjatuh, tangan gemetar, dan detak jantung nggak karuan. Sans masih melihat ke arah wanita itu yang masih stay di sana. Novi yang kaget ikut berdiri.

"Heh kenapa? Kamu liat apa?" tanya Novi.

"Ii-inii mbak itu mukanya retak sebelah," ucapku dengan gusar.

"Mana? Sebelah mana?" lanjut Novi.

Novi yang kebingungan dengan ucapanku, masih celingukan melihat gazebo itu. Ia heran sekaligus penasaran dengan apa yang Sans lihat. Dia mengambil ponsel dan segera mengarahkan kamera ke arah gazebo, Novi diam membisu melihat wanita itu.

"Nov liat kan?" tanyaku.

"Aku mau pulang, nggak mau di sini," jawab Novi dengan nada terisak.

Melihat Novi nggak tenang seperti itu, akhirnya Sans mencoba menenangkannya. Bahkan salah satu teman kami menutup mata Novi yang terus memandang wanita itu.

Sementara itu, wanita berambut badan yang hanya setengah badan itu masih berada di sana. Ia memakai baju putih dengan badan hanya sepinggang. Wajahnya pun sangat nggak enak dipandang, sebelah kanan wajahnya retak dan bagian kirinya melepuh serta banyak nanahnya.

Anggota kelompok yang lain mulai bergerombol karena keadaan Novi nggak karuan. Dia menangis menjadi-jadi usai melihat sosok asli wanita itu.

"Tolong dong bawa si Novi pergi darii sini, kasian dia," ucapku.

Mereka pun mengangguk dan segera membawa Novi menjauh dari tempat itu. Sedangkan Sans masih berdiri memandang wanita itu. Ada alasannya kenapa Sans seperti itu, ya karena wanita itu seperti ingin berkomunikasi.

Bahkan terlihat jelas mulut yang retak itu berbicara seperti komat-kamit seakan berbicara sesuatu dengan Sans. Namun, tetap Sans abaikan ajakan wanita itu untuk berkomunikasi lebih jauh.

Nggak lama kemudian, salah seorang anggota kelompok memanggil Sans karena Novi ternyata syok berat hingga pingsan. Saat Sans menoleh dan berbincang sebentar dengan dia, sebut saja Rina, terlihat sosok itu menghilang entah ke mana.

Menoleh sebentar ke arah sosok itu yang telah menghilang, Sans segera berlari menengok keadaan Novi yang berada di gazebo belakang fakultas.

Menjelang shubuh, kami bersembilan akhirnya memutuskan untuk pulang dan sebagian ada yang mengantar Novi kembali ke kosan.

Semenjak kejadian tersebut, Sans sering memandang ke arah gazebo tempat sosok setengah badan itu menampakkan diri. Namun, sosok itu nggak pernah muncul lagi di gazebo Gedung Widyaloka sampai Sans lulus dari UB.

Kisah Nyata Penampakan Hantu Setengah Badan di Universitas Brawijaya (UB)

Hmm, bagaimana menurut Sobat Zona? Ada yang pernah mengalami atau melihat penampakan hantu setengah badan seperti Sans? Yuk, sharing sama Sans tentang berbagai cerita horor lainnya yang mungkin ada di kampus kalian. Boleh nih tulis di kolom komentar ya. Sampai jumpa.

Baca Juga: Teror Hantu Kadaver di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB)

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150