Berita

Netizen Tanyakan Guna Polisi Naik Tangga Buat Nurunin Aktivis, Eks Relawan Bongkar Skill Khusus Tim Panjat Greenpeace

Muhammad Fatich Nur Fadli 21 Oktober 2026 | 18:00:02

Zona Mahasiswa - Sobat Zona, aksi enam aktivis Greenpeace Indonesia yang memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, mendadak viral di media sosial.

Aksi yang berlangsung pada Selasa (20/10/2026) itu menjadi sorotan setelah para aktivis berhasil mencapai bagian atas monumen dan membentangkan dua spanduk raksasa berisi kritik terhadap penanganan krisis iklim dan meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Namun, bukan hanya pesan dalam spanduk yang menarik perhatian publik.

Sebuah video yang memperlihatkan petugas kepolisian berusaha menjangkau para aktivis menggunakan tangga justru menjadi bahan perbincangan warganet.

Pasalnya, tangga yang digunakan tampak belum cukup tinggi untuk mencapai posisi para aktivis yang berada jauh di atas monumen.

 

Baca juga: Bikin Ferry Irwandi Nggak Habis Pikir! Orang-orang Ini Malah Bikin Pameran Sawit di saat Karhutla Masih Parah "Nirempati"

Di tengah ramainya komentar tersebut, seorang pengguna media sosial yang mengaku pernah menjadi relawan Greenpeace turut memberikan penjelasan mengenai kemampuan khusus para aktivis yang melakukan aksi pemanjatan.

Polisi Naik Tangga, Netizen Malah Pertanyakan Fungsinya

Dalam video yang beredar di Instagram, terlihat seorang petugas menggunakan tangga yang disandarkan pada bagian monumen.

Namun, posisi para aktivis Greenpeace masih berada cukup jauh di atas jangkauan tangga tersebut.

Pemandangan itu kemudian mengundang berbagai komentar dari warganet.

Ada yang mempertanyakan tujuan penggunaan tangga tersebut, sementara sebagian lainnya menjadikannya bahan candaan karena dinilai terlalu pendek untuk menjangkau para pemanjat.

Video tersebut antara lain beredar melalui akun Instagram @trendingbuzz.id dan mendapat perhatian setelah aksi Greenpeace menjadi perbincangan publik.

Meski demikian, cuplikan video tersebut tidak memperlihatkan keseluruhan proses pengamanan dan evakuasi.

Karena itu, penggunaan tangga tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tindakan yang sia-sia atau bukti bahwa petugas tidak memahami prosedur penyelamatan.

Pada akhirnya, para aktivis berhasil turun dengan bantuan petugas gabungan yang menggunakan perlengkapan evakuasi di ketinggian.

Eks Relawan Ungkap Greenpeace Punya Tim Khusus Pemanjat

Di tengah ramainya video tersebut, seorang pengguna Threads dengan nama akun @haniazzh, yang mengaku pernah menjadi relawan Greenpeace, ikut memberikan penjelasan.

Menurut pengakuannya, Greenpeace memiliki divisi khusus yang beranggotakan aktivis dengan keterampilan pemanjatan dan penggunaan tali pengaman.

Divisi tersebut disebut sebagai tim panjat atau climbing team.

"Di Greenpeace memang ada divisi panjat, Kak. Divisi ini paling disegani karena mereka adalah ujung tombak aksi," tulis akun tersebut, sebagaimana diberitakan Mabur.co pada Selasa (20/10/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa anggota tim memiliki keahlian dalam penggunaan sistem tali atau rope access serta memahami prosedur keselamatan ketika berada di ketinggian.

Menurutnya, keberadaan helm dan perlengkapan pelindung yang dikenakan aktivis menunjukkan bahwa aksi pemanjatan tidak dilakukan tanpa persiapan.

Namun, keterangan mengenai struktur internal tim tersebut berasal dari pengakuan mantan relawan di media sosial. Greenpeace belum memberikan konfirmasi khusus mengenai susunan tim yang terlibat dalam aksi di Bundaran HI.

Bukan Asal Panjat, Aktivis Dibekali Pelatihan Khusus

Greenpeace dikenal menggunakan metode aksi langsung tanpa kekerasan atau Non-Violent Direct Action (NVDA) dalam berbagai kampanye lingkungan.

Metode ini memungkinkan aktivis menyampaikan pesan melalui aksi simbolis di tempat-tempat yang menarik perhatian publik.

Salah satu bentuknya adalah membentangkan spanduk di lokasi tinggi, seperti gedung, jembatan, atau monumen.

Untuk melakukan aksi semacam itu, diperlukan keterampilan khusus, terutama dalam menggunakan perlengkapan keselamatan dan bergerak di area vertikal.

Salah satu teknik yang dikenal dalam aktivitas pemanjatan adalah Single Rope Technique (SRT), yaitu teknik bergerak naik dan turun pada jalur vertikal dengan bantuan sistem tali dan perangkat khusus.

Teknik ini juga digunakan dalam aktivitas penelusuran gua, penyelamatan, dan pekerjaan pada ketinggian.

Greenpeace sendiri menyatakan bahwa aktivis yang mengikuti aksi langsung telah memperoleh pelatihan mengenai aksi damai.

Meski demikian, memiliki kemampuan pemanjatan bukan berarti aktivitas di ketinggian bebas risiko.

Keselamatan peserta aksi, masyarakat, dan petugas tetap menjadi hal penting, terlebih ketika kegiatan berlangsung di monumen yang dilindungi sebagai cagar budaya.

Greenpeace Bentangkan Spanduk Kritik Krisis Iklim dan Biaya Hidup

Aksi Greenpeace tersebut ternyata bukan sekadar kegiatan pemanjatan biasa.

Enam aktivis yang terdiri atas dua perempuan dan empat laki-laki membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang sekitar pukul 06.05–06.15 WIB.

Aksi berlangsung bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dua spanduk yang dibentangkan memiliki pesan berbeda.

Spanduk pertama bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup", sedangkan spanduk kedua memuat pesan "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?".

Greenpeace Indonesia menyatakan aksi tersebut bertujuan mendesak pemerintah lebih serius menangani krisis iklim yang menurut mereka semakin berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam pernyataan resminya, Greenpeace menyoroti kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta cuaca ekstrem yang dapat mengganggu pekerjaan, kesehatan, dan penghasilan masyarakat.

Organisasi tersebut juga menyinggung kenaikan biaya hidup yang dinilai semakin membebani kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan.

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menilai persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat.

Menurutnya, dampak krisis iklim dapat memengaruhi harga pangan, produktivitas pekerja, serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Spanduk Diturunkan, Enam Aktivis Berhasil Dievakuasi

Aksi tersebut berlangsung selama beberapa jam sebelum petugas melakukan penanganan di lokasi.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold E.P. Hutagalung, menyampaikan bahwa kepolisian berkoordinasi dengan TNI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memastikan keselamatan para aktivis.

Petugas juga meminta para pemanjat segera turun dan mengutamakan keselamatan mereka.

Sekitar pukul 10.30 WIB, aktivis mulai turun dari monumen menggunakan sistem tali penyelamatan dengan bantuan petugas pemadam kebakaran.

Salah seorang aktivis perempuan terlihat lemas setelah turun dan langsung mendapatkan penanganan medis.

Petugas menyiapkan ambulans untuk mendukung proses evakuasi.

Seluruh enam aktivis akhirnya berhasil turun dengan selamat dan dibawa ke Klinik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya.

Keesokan harinya, Rabu (21/10/2026), Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menegaskan bahwa kepolisian tidak melakukan penangkapan terhadap keenam aktivis.

Menurut polisi, mereka dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan kesehatan karena mengalami kelelahan setelah berada di ketinggian.

Polda Metro Jaya menyatakan para aktivis telah kembali ke rumah masing-masing pada Selasa malam.

Pemerintah Beri Tanggapan, Polisi Ingatkan Status Cagar Budaya

Selain menjadi perhatian warganet, aksi Greenpeace juga mendapat tanggapan dari pemerintah.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Syahganda Nainggolan, menyatakan bahwa pemerintah menghormati penyampaian aspirasi Greenpeace sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

Ia menegaskan bahwa persoalan krisis iklim dan dampaknya terhadap biaya hidup masyarakat menjadi perhatian pemerintah.

Pemerintah juga membuka ruang bagi Greenpeace untuk menyampaikan data dan rekomendasi sebagai bahan evaluasi kebijakan.

Sementara itu, kepolisian mengingatkan bahwa kawasan Bundaran HI memiliki status sebagai struktur cagar budaya.

Kapolres Metro Jakarta Pusat menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tetap perlu dijalankan dengan memperhatikan keselamatan, ketertiban umum, dan perlindungan terhadap bangunan bersejarah.

Kepolisian juga menyatakan akan mendalami bagaimana para aktivis dapat mencapai bagian atas monumen, termasuk melalui pemeriksaan rekaman CCTV.

Aksi Singkat, Pesan Lingkungan Jadi Perbincangan

Sobat Zona, aksi Greenpeace di Bundaran HI memperlihatkan bagaimana sebuah demonstrasi dapat menarik perhatian masyarakat melalui cara penyampaian pesan yang tidak biasa.

Di satu sisi, penggunaan tangga oleh petugas dan kemampuan memanjat para aktivis menjadi bahan candaan serta rasa penasaran warganet.

Di sisi lain, pesan utama dalam aksi tersebut berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, yaitu krisis iklim, bencana lingkungan, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Aksi Greenpeace juga menunjukkan bahwa penyampaian aspirasi dapat melibatkan berbagai keterampilan khusus, termasuk kemampuan teknis dan persiapan keselamatan.

Namun, keberanian melakukan aksi di tempat tinggi tetap perlu diimbangi dengan tanggung jawab terhadap keselamatan dan aturan yang berlaku.

Walaupun spanduk tersebut hanya terbentang selama beberapa jam, pesan mengenai hubungan krisis lingkungan dan biaya hidup berhasil menjadi bagian dari perbincangan publik.

Menurut kalian, Sobat Zona, apakah aksi kreatif seperti yang dilakukan Greenpeace efektif untuk menarik perhatian pemerintah terhadap persoalan lingkungan?

Baca juga: Mahasiswa PTN Asal Jakarta Ditemukan Meninggal di Kos, Sempat Meringis Kesakitan

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150