Zona Mahasiswa - Sobat Zona, kisah inspiratif datang dari Tegar Rinang Pratama, penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) yang berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan IPK sempurna 4,00.
Mahasiswa asal Yogyakarta angkatan 2022 tersebut berhasil mempertahankan IPK 4,00 selama tujuh semester berturut-turut. Pencapaian itu semakin membanggakan karena Tegar menjalani perkuliahan dengan dukungan KIP Kuliah sejak semester pertama.
Perjuangannya berbuah manis ketika Tegar resmi meraih gelar Sarjana Kedokteran dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Kamis, 21 Mei 2026.
Tak hanya berhasil lulus dengan nilai sempurna, Tegar juga dipercaya mewakili para wisudawan untuk menyampaikan pidato dalam acara tersebut.
Cita-cita Jadi Dokter Berawal dari Peralatan Medis Kakeknya
Ketertarikan Tegar terhadap dunia kedokteran ternyata sudah muncul sejak kecil.
Tegar mengaku sering memainkan peralatan medis milik kakeknya yang merupakan seorang pensiunan perawat. Dari situlah rasa penasarannya terhadap dunia kesehatan mulai tumbuh.
Siapa sangka, kecintaannya terhadap dunia kedokteran juga dipengaruhi oleh anime Naruto yang sering ditontonnya ketika masih kecil.
Adegan-adegan pengobatan dalam anime tersebut membuat Tegar semakin tertarik mempelajari dunia medis.
Minat tersebut terus berkembang selama menempuh pendidikan dasar hingga menengah.
Saat bersekolah di SMA Negeri 1 Yogyakarta, Tegar aktif mengikuti berbagai olimpiade, terutama di bidang kimia. Prestasinya bahkan mengantarkannya menjadi siswa peringkat pertama dalam daftar siswa yang memenuhi syarat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Sempat Berpeluang Kuliah di Kanada, tetapi Pilih Kedokteran UGM
Prestasi akademik Tegar semasa SMA sempat membuka peluang untuk menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia bahkan pernah menjadi kandidat penerima beasiswa untuk Program Studi Aktuaria di University of Toronto, Kanada.
Namun, kesempatan tersebut justru membuatnya dihadapkan pada pilihan sulit.
Di satu sisi, ada peluang menempuh pendidikan di luar negeri. Di sisi lain, Tegar telah lama memiliki cita-cita untuk menjadi dokter.
Setelah mempertimbangkan minat, kondisi keluarga, dan kebutuhan hidup selama berkuliah, Tegar akhirnya memilih mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) untuk Program Studi Kedokteran UGM.
Keputusan tersebut juga dinilainya lebih realistis karena ia merupakan warga asli Yogyakarta sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tinggal di kota lain.
Bagi Tegar, keputusan memilih perguruan tinggi bukan semata-mata tentang gengsi atau lokasi, melainkan juga kesesuaian dengan cita-cita dan kemampuan yang dimiliki.
Sempat Ragu Kedokteran Bisa Dibiayai KIP Kuliah
Setelah dinyatakan diterima di Kedokteran UGM, Tegar masih menghadapi tantangan lain, yakni memastikan biaya pendidikannya dapat terpenuhi.
Ia kemudian mencari informasi mengenai program KIP Kuliah.
Awalnya, Tegar sempat ragu karena mendengar bahwa mahasiswa kedokteran jarang memperoleh bantuan pendidikan tersebut.
Namun, keraguan itu tidak membuatnya menyerah.
Tegar aktif mencari informasi dan berdiskusi dengan kakak tingkat yang telah lebih dahulu menjadi penerima KIP Kuliah.
Tantangan juga muncul ketika mengurus persyaratan administrasi karena keluarganya tidak memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Sebagai dokumen pendukung, Tegar kemudian melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Tegar dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah sejak semester pertama.
Bantuan tersebut menjadi dukungan penting agar dirinya bisa fokus menjalani pendidikan kedokteran.
Sempat Kaget dengan Beratnya Kuliah Kedokteran
Meski memiliki prestasi akademik yang baik sejak sekolah, Tegar mengakui bahwa masa awal perkuliahan tidak berjalan mudah.
Ia sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan sistem pembelajaran kedokteran yang jauh berbeda dari SMA.
Materi kuliah yang sebagian menggunakan bahasa Inggris, ujian yang berlangsung hampir setiap dua minggu, hingga bahan presentasi berisi ratusan slide menjadi tantangan tersendiri.
Tegar menyadari bahwa kebiasaannya belajar dengan sistem kebut semalam tidak lagi efektif untuk menghadapi beban perkuliahan tersebut.
Karena itu, ia mulai mengubah pola belajarnya menjadi lebih disiplin dan terencana.
Ia membiasakan diri mempelajari materi secara bertahap, menentukan target belajar harian, serta mempersiapkan ujian sejak jauh hari.
Dalam wawancara yang dipublikasikan UGM pada 5 Juni 2026, Tegar menjelaskan bahwa dirinya mulai mencicil materi sekitar satu minggu sebelum ujian.
Ia bahkan memiliki prinsip bahwa sehari sebelum ujian, seluruh materi seharusnya sudah dikuasai sehingga tidak perlu lagi mempelajari bahasan baru.
Bentuk Kelompok Belajar Bersama Lima Mahasiswa
Selain mengatur jadwal belajar secara mandiri, Tegar juga membentuk kelompok belajar yang terdiri atas lima mahasiswa.
Mereka kerap belajar bersama di berbagai tempat, mulai dari perpustakaan, kafe, hingga rumah.
Bagi Tegar, kelompok tersebut bukan hanya membantu memahami materi perkuliahan, tetapi juga menjadi tempat saling berbagi cerita ketika menghadapi tekanan akademik.
Ia juga rajin berkonsultasi dengan kakak tingkat untuk mengetahui gambaran materi dan tantangan yang akan dihadapi pada semester berikutnya.
Cara tersebut membantunya menyusun prioritas belajar dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Konsistensi inilah yang turut mengantarkan Tegar mempertahankan IPK 4,00 selama tujuh semester.
Lulus dengan IPK 4,00, Jadi Salah Satu Wisudawan Terbaik
Perjuangan Tegar akhirnya mencapai salah satu momen penting dalam hidupnya.
Pada 21 Mei 2026, ia resmi menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Tegar menjadi salah satu dari tiga lulusan Program Studi Kedokteran yang berhasil meraih IPK sempurna 4,00.
Dua lulusan lainnya adalah Kharisa Rasikhatul Hikmah dan Ashifa Jasmine.
Pencapaian tersebut semakin istimewa karena rata-rata IPK lulusan program sarjana UGM pada periode wisuda itu berada di angka 3,60.
Dalam kesempatan tersebut, Tegar juga dipercaya memberikan sambutan mewakili para wisudawan.
Ia membuka pidatonya menggunakan pepatah Jawa, "Ngelmu iku kalakone kanthi laku", yang mengandung pesan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga perlu diwujudkan melalui tindakan.
Bagi Tegar, Jadi Dokter Bukan Cuma Soal Nilai Tinggi
Meski telah meraih IPK sempurna, Tegar mengaku bahwa keberhasilan akademik bukanlah satu-satunya tujuan dalam menempuh pendidikan kedokteran.
Menurutnya, perjalanan kuliah justru mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu dapat diukur menggunakan angka.
Ia mulai memahami bahwa seorang dokter tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan medis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi dan perasaan pasien.
Dalam sambutan wisudanya, Tegar mengingatkan bahwa dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga mereka yang bersedia mendengarkan, memahami, dan peduli terhadap sesama.
Kini, setelah menyelesaikan tahap sarjana, Tegar melanjutkan perjalanan pendidikannya melalui tahap profesi atau koas.
Ia berharap kelak dapat menjadi dokter yang tidak hanya membantu menyembuhkan penyakit, tetapi juga memberikan empati dan dukungan emosional kepada pasien.
Bukti Keterbatasan Ekonomi Tak Harus Menghentikan Cita-cita
Sobat Zona, kisah Tegar Rinang Pratama memperlihatkan bagaimana kesempatan memperoleh pendidikan dapat memberikan dampak besar bagi masa depan seseorang.
Dari seorang pelajar yang sempat ragu bisa berkuliah di kedokteran dengan bantuan KIP Kuliah, Tegar berhasil membuktikan kemampuannya hingga meraih gelar Sarjana Kedokteran dengan IPK sempurna.
Namun, pencapaiannya bukan hanya hasil kerja keras pribadi.
Ada dukungan beasiswa, kesempatan pendidikan, dosen, teman belajar, serta lingkungan yang turut membantu perjalanan akademiknya.
Kisah ini juga memperlihatkan bahwa penerima KIP Kuliah memiliki kesempatan untuk berprestasi di berbagai bidang studi, termasuk pendidikan kedokteran yang dikenal memiliki beban akademik tinggi.
Bagi Tegar, gelar dan nilai sempurna bukanlah akhir perjalanan. Masih ada tahap pendidikan profesi yang harus dilalui sebelum ia benar-benar dapat menjalankan cita-citanya sebagai dokter.
Menurut kalian, Sobat Zona, kebiasaan belajar apa dari Tegar yang paling ingin kalian terapkan selama kuliah?
Baca juga: Mahasiswa PTN Asal Jakarta Ditemukan Meninggal di Kos, Sempat Meringis Kesakitan
Komentar
0

