Pilihan Editor

Kepentok Cinta Mas Ketua BEM 3

Zahrah Thaybah M 25 Juni 2021 | 17:00:12

Ia berjengit kaget saat kedua matanya menangkap sosok tampan yang baru saja menjadi topik pembicaraannya dengan Sans.

Dengan sedikit panik ia melirik ke arah Sans yang menahan tawanya sekaligus menunjukkan ekspresi wajah meledek dan itu terlihat menyebalkan. Ingin rasanya meminta bantuan kepada Sans, tapi apa daya tubuhnya seperti kaku dan mulutnya sulit berbicara walaupun hanya sepatah kata.

“Awas aja kamu Sans,” batin Anggia geram.

“Paham kamu Anggia Primadani? Kenapa malah diam aja hm?” tanya Abi sambil terus menatap sosok gadis mungil di depannya itu.

“Paham kak,” kata Anggia.

Anggia tidak tahu saja kalau sejujurnya cowok dengan tinggi 180 cm itu senang bertemu dengannya. Tapi, memang dasarnya Abi nggak pandai berkata-kata dan berekspresi. Selain itu, sudah lama juga keduanya tidak bertemu, karena sejak hubungannya kandas tidak pernah berkomunikasi lagi dengan gadis itu.

Kalau boleh cerita, Anggia adalah gadis kedua yang pernah sangat ia cintai selain Rania Prasojo. Abi mengenal Rania sejak kecil karena orang tua keduanya merupakan rekan bisnis. Pasti banyak yang bertanya-tanya alasan hubungannya yang kandas dengan Anggia.

Bisa dibilang ini semua salahnya yang tidak jujur kepada Anggia. Saat keduanya menjalin hubungan, kedua orang tuanya menjodohkan dengan Rania. Alasannya klise, ia gadis yang baik.

Selama berpacaran dengan Anggia, belum pernah sekalipun ia memperkenalkan kepada Mama dan Papanya. Ketika itu, ia berpikir bahwa untuk apa mengenalkan gadis itu kepada mereka, karena hanya cinta monyet.

Abi juga menganggap itu bukanlah hal yang sangat penting, tapi ternyata memiliki efek yang cukup besar terhadap hubungannya dengan Anggia. Ia mengaku bahwa dirinya sangat pecundang karena melibatkan dua gadis sekaligus di dalam hidupnya.

Di sisi lain, Abi tidak mampu untuk menolak permintaan kedua orang tuanya. Padahal, ia hanya ingin menjalin pertemanan walaupun memiliki perasaan lebih kepada Rania.  

Abimana juga nyaman dengan keberadaan gadis itu walaupun berisik, posesif, dan selalu merecoki kesehariannya. Tapi, mau bagaimana lagi jika takdir sudah berkata demikian.

Ia juga tertarik dengan Anggia, gadis mungil yang cukup pendiam, dan juga menggemaskan. Baginya, Anggia seperti lagu yang menenangkan ketika merasa lelah dengan sikap Rania. Bisa dibilang, ia merupakan sosok pelampiasan bagi Abi.

Katakanlah ia merupakan cowok yang tidak mempunyai pendirian sekaligus mempermainkan hati kedua gadis. Semakin hari, Abi merasa perasaannya pada Rania mulai memudar. Sebaliknya, perasannya pada Anggia semakin kuat. Abi memutuskan untuk kembali mengejar Anggia apapun yang terjadi dan bagaimana pun caranya.

“Gi, nanti kakak tunggu di depan ruang sekretariat,” kata Abimana.

Anggia yang mendengarnya pun bertanya-tanya ada angin apa cowok di depannya ini memintanya bertemu di depan sekretariat. Eh, ralat bukan permintaan, melainkan perintah. Lagi-lagi, Anggia khawatir akan perasaannya. Bukannya apa, tapi ia berhak melindungi hatinya agar tidak terjerat dengan pesona mantan pacarnya itu.

“Maaf kak, ada keperluan apa ya?” tanya Anggia berusaha memastikan perkataam Abi.

“Nanti juga kamu juga bakal tahu,” kata Abi santai.

Whaaaattt?! Kamu?! Nggak salah dengar nih Anggia? Kenapa mendadak kayak zaman pacaran dulu sih? Ia jadi semakin penasaran ada perlu apa si Abi ini dengannya.

Beberapa jam kemudian, kegiatan pengenalan mahasiswa baru pun berakhir. Seperti yang Abimana katakan tadi, ia akan menemui cowok itu.

“Gi,” suara Abi memanggil Anggia.

“To the point aja kak. Ada perlu apa?” tanya Anggia.

“Gi, sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu. Aku tahu kamu kecewa dan perlakuanku emang nggak pantas buat dapat maaf,” kata Abi.

“Yakin kamu mau bahas ini?” jujur saja Anggia bahkan sudah muak dengan cowok ini.

“Yakin. Jujur aku benar-benar minta maaf sama kamu. Apalagi udah melibatkan Rania juga ke hubungan kita,” kali ini Abi sangat menyesali kebodohannya.

Orang lain boleh saja melihatnya sebagai sosok yang tegas, bijaksana, dan juga disiplin. Tapi, siapa sangka kalau Abi juga pernah menjadi sosok yang sangat pecundang. Mungkin orang lain juga turut membencinya sama seperti gadis di hadapannya ini.

“Kamu tahu nggak? Aku merasa jadi orang ketiga di antara kamu dan Rania. Padahal saat itu kita menjalin hubungan. Tapi, satu sekolah justru memandang aku sebaliknya. Kenapa aku percaya aja sih sama kamu dan bisa-bisanya tahu kalau kamu dijodohin sama Rania dari orang lain?” Anggia meluapkan isi hatinya.

“Asal kamu tahu, posisi aku saat itu juga serba salah. Mama Papaku nggak nerima penolakan dan di sisi lain aku juga nggak mau ngelepas kamu gitu aja. Andai aja aku bisa nolak perjodohan itu,” kata Abian sedikit frustasi.

“Kakak jangan kayak gini dong. Jangan mentang-mentang kita pernah punya hubungan, tapi bisa semena-mena ya. Jangan harap aku mau percaya lagi sama semua omongan kakak,” ujar Anggia.

Ini tidak bisa dibiarkan, karena susah payah ia mengembalikan kepercayaan kepada cowok itu, tapi kenyataannya nihil. Kalau Anggia teringat, rasa sakit itu masih saja begitu melekat di hatinya.

“Gi, jujur aku semakin kesini sadar kalau bukan Rania yang aku butuhin, tapi kamu. Oke, kamu emang nggak percaya sama kata-kataku, tapi aku berani jamin kalau semua ini nyata,”

Abi takut kalau perasaan Anggia kepadanya sudah benar-benar habis tak bersisa. Tapi, yang paling penting adalah mengembalikan kepercayaan Anggia. Mungkin ia akan melakukan apapun bahkan jika harus berlutut sekalipun.

“Tapi, kak aku..aku..aku bahkan nggak ngerti harus ngomong apa sekarang,” Anggia sekuat mungkin menahan air matanya. Suaranya semakin tercekat dan itu sungguh menyakitkan. Ia bimbang. Otaknya berkata untuk menolak, tapi hatinya justru berkata lain.

“Gi, kakak minta maaf dan tolong beri kakak kesempatan satu kali lagi,” kata Abi.

“Rania? Gimana kalau dia tahu?” tanya Anggia. Astaga, bagaimana bisa ia kembali menjalin hubungan dengan Abimana kalau masih ada Rania di antara mereka.

“Kenapa emangnya? Dulu aku emang cinta sama Rania, tapi sekarang sama sekali nggak. Dia juga udah tahu kalau aku lebih milih kamu. Jadi, apa kamu mau ngasih aku kesempatan dan maafin cowok pecundang ini?” kata Abi.

Yaampun, Abi kenapa sih kok mendadak begini? Padahal kan Anggia berusaha gengsi dan jual mahal, tapi dasar hatinya aja yang murahan dan gampang luluh. Apalagi lihat wajah Abi yang nelangsa, frustasi, memohon, dan lain sebagainya campur jadi satu.

Tapi, semoga saja ini memang pilihan yang terbaik. Anggia juga mau bahagia dong, jangan harap ada penderitaan, kecewa, dan sakit hati. Cukup sudah sampai sini saja.

“Iya kak, aku udah maafin kak Abian dan bakal ngasih kesempatan sekali lagi. Jangan pernah merusak kepercayaanku lagi, ya,” kata Anggia.

Senyum lebar dan sumringah langsung tercetak di wajah Abian. Dadanya seketika sangat lega dan bebannya selama bertahun-tahun ini pun hilang. Dalam hati ia berjanji akan selalu membahagiakan gadis ini. Kalau boleh Abi juga akan serius menjalani hubungan ini bersama Anggia.

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150