
Zona Mahasiswa - Dunia pendidikan di Indonesia kembali jadi sorotan. Kali ini, perbedaan nasib dua guru, Bu Novi vokalis band Sukatani dan Bu Salsa yang viral karena video syurnya, menjadi perdebatan panas di media sosial. Banyak yang mempertanyakan apakah ada standar ganda dalam penegakan aturan di dunia pendidikan.
Baca juga: Keren Banget! Siswa SMK di Pontianak Sukses Luncurkan Roket Buatan Sendiri
Bu Novi Dipecat Meski Hanya Bernyanyi
Bu Novi, yang memiliki nama lengkap Novi Citra Indryati atau dikenal dengan nama panggung Twister Angel, baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai guru di SDIT Mutiara Hati. Pemecatannya terjadi setelah band Sukatani, di mana ia menjadi vokalis, viral karena lagu "Bayar Bayar Bayar" yang mengkritik sistem kepolisian.
Meski sudah meminta maaf, pihak sekolah tetap bersikeras memberhentikannya. Dalam surat pemecatan yang diterima Bu Novi, disebutkan bahwa ia dianggap melanggar kode etik. Namun, dalam keterangan yang diberikan pihak sekolah, pelanggaran yang paling mendasar bukan terkait lagu kritiknya, melainkan soal cara berpakaiannya yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai sekolah.
"Beliau mengajar dengan baik, tapi seorang guru tidak hanya harus punya kompetensi mengajar, tetapi juga harus mematuhi nilai-nilai yang ada di sekolah. Kalau ada pelanggaran aturan, maka harus siap menerima konsekuensinya," ujar Kepala SDIT Mutiara Hati, Eti Endarwati.
Eti juga menegaskan bahwa masalah utama dari pemecatan Bu Novi adalah aurat yang terbuka saat tampil sebagai vokalis band Sukatani. "Adapun pelanggaran kode etik yang paling mendasar adalah terbukanya aurat guru," tambahnya.
Pemecatan ini pun menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak, terutama karena tidak ada kesempatan bagi Bu Novi untuk memberikan klarifikasi sebelum keputusan tersebut dibuat.
"Pemecatan ini dilakukan tanpa memberikan ruang dan kesempatan bagi Twister Angel untuk dimintai keterangan," tulis pihak band Sukatani dalam pernyataannya di media sosial.
Bu Salsa Masih Bisa Mengajar Meski Video Syurnya Viral
Sementara itu, kasus Bu Salsa justru berbeda jauh. Bu Salsa yang videonya sempat tersebar luas di media sosial tetap bisa melanjutkan kariernya sebagai guru dan bahkan lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bu Salsa mendapatkan pembelaan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember. Menurut Humas PB PGRI Jember, Ilham Wahyudi, Bu Salsa tidak bersalah dalam kasus ini karena video tersebut tersebar tanpa seizin dirinya dan merupakan bentuk eksploitasi digital.
"Sangat kita sayangkan jika Bu Salsa mundur. Terlebih dia lolos PPPK yang notabene idaman setiap honorer," kata Ilham Wahyudi.
Ilham juga menegaskan bahwa Bu Salsa telah menunjukkan sikap bertanggung jawab dengan membuat video klarifikasi dan permintaan maaf. Menurutnya, hal ini cukup untuk membuktikan bahwa dia masih pantas menjadi tenaga pendidik.
Namun, yang membuat publik semakin geram adalah pernyataan Bu Salsa dalam salah satu siaran langsungnya di TikTok. Saat ditanya soal kemungkinan anaknya sendiri melihat video syurnya, ia menjawab santai.
"Ya bodo amat, ya gak apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur," ucapnya dengan santai.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi negatif di media sosial. Banyak netizen yang merasa bahwa sikap santai Bu Salsa dalam menanggapi skandalnya tidak pantas bagi seorang guru, terutama karena ia masih didukung oleh PGRI dan pemerintah.
Standar Ganda dalam Dunia Pendidikan?
Kasus Bu Novi dan Bu Salsa ini kemudian memicu perdebatan besar di media sosial. Banyak yang menilai bahwa keputusan yang diambil terhadap keduanya menunjukkan adanya standar ganda dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Di platform X (Twitter), banyak netizen yang membandingkan perlakuan terhadap Bu Novi dan Bu Salsa.
"Vokalis Sukatani dipecat gara-gara aurat, nah ini jelas-jelas lebih parah malah dibela. Negara gak ada moral, apapun boleh kecuali kritik pemerintah," komentar salah satu netizen.
"Kasian guru honorer lain yang lebih bagus akhlaknya tapi gak lolos PPPK," timpal netizen lainnya.
Sebagian netizen menilai bahwa kasus ini adalah contoh nyata bagaimana peraturan bisa diterapkan dengan tebang pilih. Seorang guru yang hanya bernyanyi dan mengkritik kebijakan bisa langsung dipecat, sementara guru yang videonya tersebar luas justru mendapatkan pembelaan dari organisasi guru.
Banyak yang mempertanyakan apakah pendidikan di Indonesia lebih mementingkan citra sekolah daripada esensi moral dan nilai-nilai yang diajarkan kepada siswa. Beberapa pihak juga menyoroti bahwa ada banyak guru honorer dengan reputasi baik yang masih berjuang untuk mendapatkan posisi tetap, sementara kasus seperti Bu Salsa justru mendapatkan dukungan.
Reaksi Pihak Terkait
Hingga saat ini, pihak SDIT Mutiara Hati tetap teguh pada keputusan mereka untuk memecat Bu Novi. Mereka menegaskan bahwa keputusan tersebut sudah sesuai dengan aturan yang berlaku di sekolah.
Sementara itu, PGRI Jember tetap membela Bu Salsa dan meminta agar kasus ini tidak dijadikan alasan untuk menghalangi kariernya sebagai guru. Mereka juga menegaskan bahwa kasus ini adalah contoh eksploitasi digital yang tidak seharusnya merugikan korban.
Namun, publik masih mempertanyakan apakah keputusan yang diambil dalam kedua kasus ini benar-benar mencerminkan keadilan. Apakah seorang guru yang hanya bernyanyi dan mengkritik sistem lebih layak dipecat daripada guru yang terlibat dalam skandal video syur?
Beda Nasib Bu Novi Vokalis Sukatani dengan Bu Salsa yang Viral karena Video Syur, Bukti Standar Ganda Dunia Pendidikan?
Kasus Bu Novi dan Bu Salsa memperlihatkan bagaimana standar ganda masih sering terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Perbedaan perlakuan terhadap dua kasus ini memicu pertanyaan besar tentang bagaimana aturan seharusnya diterapkan secara adil.
Jika seorang guru bisa dipecat hanya karena bernyanyi dan mengkritik, mengapa guru yang terlibat dalam skandal video syur masih bisa mengajar? Pertanyaan ini masih menggantung di benak publik, menunggu jawaban dari pihak-pihak terkait.
Hingga kini, netizen masih memperdebatkan kasus ini di media sosial, dan tampaknya perbincangan ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Bagaimana menurut kalian? Apakah ini bukti nyata standar ganda dalam dunia pendidikan?
Komentar
0